Bid’ah-Bid’ah Pada Bulan

Bid’ah-Bid’ah Pada Bulan

Ramadhan

Abu Ihsan Al-Atsari

Hakikat Bid’ah

Asal kata bid’ah adalah
menciptakan (suatu hal yang baru) tanpa ada contoh sebelumnya.
Sebagaimana firman Allah, “Allah pencipta langit
dan bumi.”
Bahwa Allah menciptakan keduanya tanpa contoh
sebelumnya.

Adapun bid’ah menurut makna
syar’i, ialah sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah, yaitu
segala cara beragama yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya; yakni
yang tidak diperintahkan, baik dalam wujud perintah wajib atau berbentuk
anjuran,
4 baik
berupa keyakinan, ibadah dan muamalah.

Sedangkan menurut Imam Asy
Syathibi,

bid’ah ialah suatu cara dalam beragama yang dibuat untuk
menandingi syari’at

yang ada (yakni menyerupai
cara ibadah yang disyari’atkan, padahal hakikatnya

tidaklah sama, bahkan
bertentangan dengannya); tujuan pelaksanaannya ialah

untuk berlebihan dalam ibadah
kepada Allah.

Jadi, yang dimaksud dengan
bid’ah, ialah segala bentuk praktek beragama yang tidak memiliki dalil atau
landasan hukum dalam agama yang mengindikasikan keabsahannya.

Adapun yang memiliki dasar dalam
syari’at yang menunjukkan keberadaannya, maka secara syari’at tidaklah
dikatakan sebagai bid’ah, meskipun secara bahasa dikatakan bid’ah.

Maka setiap orang yang
membuat-buat sesuatu, lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak
memiliki dalil atau landasan hukum dari agama, maka hal itu termasuk bid’ah.

Cahaya Sunnah Dan Gelapnya Bid’ah

Setiap muslim wajib mentaati Rasulullah,
baik ketika beliau masih hidup atau sesudah meninggal dunia. Mentaati
Rasulullah termasuk bagian dari kesempurnaan cinta seseorang kepada Allah,
sebagaimana firman Allah,

Katakanlah: ‘Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku “.
(QS

Ali Imran: 31).

Bahkan Allah mengancam
orang-orang yang menyelisihi sunnah beliau. Allah akan menimpakan fitnah dan
siksaan yang pedih, seperti dalam firman Allah: “Maka hendaklah takut
orang-orang yang menyalahi perintah Rasul akan

ditimpa cobaan atau ditimpa
adzab yang pedih”.
(QS An Nur: 63).

Setiap muslim dilarang
menyelisihi sunnah Rasul dan jalan orang-orang mukmin (yaitu para sahabat),
sebagaimana firman Allah: “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin,
Kami biarkan leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu”.
(QS An Nisa’: 115).

Nabi menganjurkan kepada semua
Umat Islam untuk berpegang teguh dengan sunnah- sunnahnya sepeninggal beliau,
dan tidak membuat perkaraperkara bid’ah. Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi
bersabda dalam khutbahnya: Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada
Allah, patuh dan taat, walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih
hidup

dari kalian, maka akan melihat
perselisihan yang banyak. Maka berpegang

teguhlah kepada sunnahku dan
sunnah para Khulafaur Rasyidin yang

memberi petunjuk, berpegang
teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi

geraham kalian. Waspadalah
terhadap perkara perkara baru (bid’ah), karena

setiap perkara yang baru
adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sehat.

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia
berkata, “Hendaklah kalian mengikuti, dan janganlah kalian berbuat
kebid’ahan. Sungguh kalian telah dicukupkan dalam beragama dengan Islam
ini.”

Imam Al Auza’i berkata,

“Bersabarlah kalian di
atas sunnah. Tetaplah tegak sebagaimana para

sahabat tegak di atasnya.
Katakanlah sebagaimana yang mereka telah

katakan. Tahanlah dirimu dari
apa-apa yang mereka menahan diri darinya,

dan ikutilah jalan salafush
shalih.”

Satu hal yang menodai bulan
Ramadhan, yaitu munculnya amalan-amalan bid’ah yang banyak dilakukan oleh
sebagian kaum muslimin. Karena sudah temurun dilakukan, merekapun menganggap
baik bid’ah tersebut. Itu sebabnya, syetan lebih menyukai bid’ah daripada
maksiat.

Khususnya pada bulan Ramadhan ini,
maka salah satu cara syetan menghalangi kebaikan bulan ini, yaitu dengan
menebar amalan-amalan bid’ah. Mereka, para pelaku bid’ah itu merasa lebih dekat
kepada Allah, padahal mereka semakin jauh dariNya. Yang sangat menyedihkan,
bahwa amalan-amalan bid’ah ini justru menjamur pada bulan Ramadhan.

Pada edisi kali ini, kami mencoba
mengangkat beberapa amalan bid’ah yang sering dilakukan oleh kaum muslimin.
Semoga setelah mengetahuinya, kaum muslimin dapat meninggalkan dan bertaubat
darinya. Kami menukilnya dari kitab Mu,jamul Bida’, karya Raa-id bin Shabri bin
Abi ‘Alfah dan kitab Al Bida’ Al Haaliyah. karya Abdullah bin Abdul Aziz bin
Ahmad At Tuweijeri, serta beberapa referensi lainnya.

1. Bid’ah Punggahan.

Yakni makan-makan atau kenduri
di masjid atau surau, satu hari menjelang

Ramadhan. Di beberapa tempat,
masyarakat berbondong-bondong membawa

makanan beraneka ragam untuk
kenduri di masjid menyambut datangnya bulan

Ramadhan. Kenduri seperti ini
disebut punggahan. Hal seperti ini tidak ada

contohnya dari Rasulullah,
para Sahabat, maupun Salafush Shalih.

_Disalin dari
majalah
As-Sunnah 07/VII/1424H hal 16 – 19.

2. Bid’ah pesta ru’yah.

Yaitu berkeliling kota atau desa menyambut
malam pertama bulan Ramadhan,

sebagaimana biasa dilakukan
oleh pengikutpengikut tarikat dan orang awam.

3. Bid’ah hisab.

Yakni menentukan awal Ramadhan
dengan perhitungan hisab. Syaikhul Islam

Ibnu Taimiyah dalam Majmu’
Fatawa telah menegaskan, bahwa cara seperti itu

merupakan bid’ah dalam agama.

4. Mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya.

Perbuatan seperti itu
merupakan kedurhakaan terhadap Rasulullah. Rasulullah

melarang mendahului Ramadhan
dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi yang bertepatan
dengan hari puasanya.

5. Menyewa qari untuk menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan.

6. Bid’ah imsak sebelum fajar pada bulan Ramadhan.

7. Bid’ah tashir.

Yakni membangunkan orang untuk
sahur dengan berteriak “Sahur sahur!”

Perbuatan seperti ini tidak
ada contohnya pada zaman Rasulullah. Tidak pula

diperintahkan oleh beliau.
Juga tidak dilakukan oleh para sahabat dan tabi’in.

Di negeri Mesir, para
muadzdzin menyerukan lewat menara masjid “Sahur…

sahur… makan… minum… ‘,
kemudian membaca firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu bershiyam

sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu

bertaqwa.” (QS Al Bagarah:183).

Di negeri Iskandariyah, Yaman
dan Marokko, orang-orang membangunkan sahur

dengan mengetuk pintu-pintu
rumah seraya meneriakkan “Sahur.. sahur…

bangun… bangun…!

Di negeri Syam lebih parah
lagi; mereka membangunkan sahur dengan

membunyikan alat musik, bernyanyi
menari dan bermain.

Demikian juga di Indonesia.
Berbagai macam cara dilakukan oleh orang-orang

awam. Ada yang keliling kampung sambil
teriak-teriak “Sahur… sahur…

Di sebagian daerah dengan
membunyikan musik lewat mikrofon masjid, atau

dengan membunyikan tape
recorder dan membawanya keliling kampung. Ada

yang membunyikan mercon atau
meriam bambu, dan lain sebagainya.

Semua itu merupakan perbuatan
bid’ah.

8. Bid’ah shalat tarawih setelah shalat Maghrib.

Bid’ah ini umumnya dilakukan
oleh kaum Ra_dhah. Sebab mereka mengingkari

shalat tarawih, bahkan
membencinya. Menurut mereka, shalat tarawih itu bid’ah

yang diada-adakan oleh Umar.

9. Bid’ah shalat Al Qadar.

Yakni mengerjakan shalat dua
raka’at berjama’ah setelah shalat tarawih; kemudian di penghujung malam
mengerjakan shalat seratus raka’at pada malam yang diyakini sebagai Lailatul
Qadar. Karena itulah mereka menamakannya shalat Al Qadar. Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah menyatakannya sebagai amalan bid’ah, berdasarkan kesepatakan para
ulama.

10. Bid’ah mengumpulkan ayat-ayat

berisi doa dan membacanya di raka’at terakhir shalat
tarawih setelah membaca surat
An Naas.

11. Bid’ah perayaan malam khatam Al Qur’an.

Yakni berdoa dengan suara
keras secara berjama’ah atau sendiri-sendiri setelah

rnengkhatamkan Al Qur’an.

12. Bid’ah perayaan Nuzulul Qur’an.

Perayaan ini dilakukan setiap
tanggal tujuh belas Ramadhan. Perayaan ini dan

perayaan-perayaan lain
sejenisnya seperti maulid Nabi, isra’ mi’raj dan tahun baru Islam merupakan
perbuatan bid’ah, yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah dan tidak pernah
dilakukan oleh para sahabat sepeninggal beliau

13. Bid’ah perayaan mengenang perang Badar.

Salah satu perayaan bid’ah
yang diadaadakan oleh manusia, yaitu peringatan

perang Badar pada malam ke
tujuh belas Ramadhan. Orang-orang awam dan yang mengaku pintar, berkumpul di
masjid pada malam itu. Perayaan dibuka dengan pembacaan ayat-ayat suci Al
Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kisah perang Badar.

14. Menunda azan Maghrib di bulan Ramadhan
dengan alasan untuk kehati-hatian.

Hal ini bertentangan dengan
petunjuk Nabi, yang memerintahkan umatnya agar

segera berbuka, begitu bulatan
matahari telah tenggelam di ufuk barat.

15. Berziarah kubur menjelang Ramadhan dan
sesudahnya.

Perbuatan seperti ini banyak
dilakukan oleh kaum muslimin di Indonesia.
Bahkan

tidak sedikit diantara mereka
yang membumbuinya dengan perbuatan-perbuatan

bid’ah atau bahkan syirik.
Berziarah kubur memang dianjurkan untuk mengingat

akhirat, namun
mengkhususkannya pada waktu-waktu tertentu, merupakan bid’ah dalam agama.
Rasulullah tidak menganjurkan waktu-waktu tertentu untuk

berziarah kubur.

16. Menyalakan lilin di depan rumah dan
kembang api pada malam dua puluh tujuh Ramadhan. Sebagian orang melakukannya
dengan keyakinan, bahwa para malaikat akan menyinggahi rumah yang dipasangi Jilin. Perbuatan seperti
itu jelas bid’ah, dan mirip seperti perbuatan orang-orang Nasrani merayakan Natal atau Tahun Baru,
wal iyadzu billah minadh
dhalal
.

17. Bid’ah megengan.

Yakni kenduri di rumah-rumah yang
dilakukan pada malam-malam ganjil pada

sepuluh terakhir bulan
Ramadhan. Bid’ah ini banyak dilakukan di kampung-

kampung di pulau Jawa.

18. Bid’ah wada’ Ramadhan.

Salah satu bid’ah yang
diada-adakan pada bulan Ramadhan ialah bid’ah
wada’

(perpisahan) Ramadhan. Yakni lima malam atau tiga malam
terakhir pada bulan

Ramadhan, para muadzdzin dan
wakil-wakilnya berkumpul.

Setelah imam mengucapkan salam
pada shalat witir, mereka melantunkan syair-

syair berisi kesedihan mereka
dengan kepergian bulan Ramadhan. Syair ini

dilantunkan secara bergantian
tanpa putus dengan suara keras. Tujuannya

untuk mengumumkan kepada
masyarakat, bahwa malam ini merupakan malam

perpisahan bulan Ramadhan.

19. Bid’ah takbiran dan memukul bedug pada malam ‘Iedul Fitri’.

Menurut sunnah Nabi, takbiran
dimulai ketika keluar dart rumah menuju lapangan Shalat ‘Ied.

20. Bid’ah dzikir berjama’ah dengan suara keras
di sela-sela shalat tarawih.

21.
Demikian pula ucapan muadzdzin sebelum memulai shalat tarawih atau disela-sela shalat
tarawih:
“Shalatut
taraawih rahtmakumullah”
.

22. Bid’ah melafalkan niat “Nawaitu shauma ghadin… “

Tidak ada satupun riwayat dart
sahabat maupun tabi’in yang menyebutkan, bahwa mereka melafadzkan niat puasa
seperti ini.

23. Bid’ah tahwithah.

Yaitu doa pada akhir Jum’at
bulan Ramadhan yang diucapkan oleh khatib di atas

mimbar.

24. Bid’ah memilih-milih masjid untuk shalat tarawih di bulan Ramadhan, hingga terkadang
harus bersafar karenanya.

Rasulullah memerintahkan kita
untuk shalat di masjid yang terdekat dengan kita

dan melarang memilih-milih
masjid.

25. Bid’ah hafizhah.

Yakni surat sakti yang ditulis oleh khatib pada
akhir Jum’at bulan Ramadhan.

Sebagian orang jahil meyakini,
bahwa surat
sakti ini dapat menjaga mereka dari

bahaya kebakaran, banjir.
pencurian dan musibah lainnya.

26. Membaca surat
Al An’am

(pada raka’at terakhir shalat tarawih, pada
‘malam kedua puluh tujuh Ramadhan).

27. Bid’ah shalat khatam Al Qur’an

pada bulan Ramadhan, dengan melakukan seluruh sujud
tilawah dalam satu raka’at.

28. Mengada-adakan gerakan

ataupun ucapan dalam shalat tarawih yang tidak
ada tuntunannya dalam sunnah.

Sebagai contoh ucapan sebagian
orang di beberapa negeri Islam “Shallu ya

hadhdhar ‘alan Nabi” atau
ucapan “Ash shalatul qiyam atsabakumullah”.

Demikian pula takbir dan
tahlii setiap selesai dua raka’at, membaca shalawat

Nabi menyuarakan tabligh
(penyampaian suara) diantara mereka dengan suara

keras. Dan perbuatan perbuatan
bid’ah, sesat dan mungkar lainnya yang mesti

ditinggalkan, karena sangat
mengganggu orang yang sedang beribadah di rumah Allah swt.

29. Meniru-niru bacaan para qari’.

Hampir mirip dengan kesalahan
di atas, yaitu meniru-niru bacaan sejumlah qari’,

sebagaimana banyak dilakukan
oleh orang-orang sekarang. Kadang memaksakan diri meniru bacaannya. Sehingga
yang menjadi tujuannya hanyalah mengelokkan suara, menarik perhatian orang
kepadanya, mengatur alat pengeras suara dan sound system untuk menarik jama’ah
shalat.

30. Membaca doa khatam Al Qur’an dalam shalat tarawih.

Sebagian imam ada yang berlebihan
dalam masalah ini. Mereka sengaja

menyusun doa-doa dengan irama
tertentu, mengikuti sajak, berusaha menangis

atau memaksakan diri menangis
dan khusyuk, serta merubah-rubah suara dengan cara yang tidak pantas menjadi
contoh dalam membaca Al Qur’an.

Demikianlah beberapa bid’ah
yang dapat kami rangkum dalam kesempatan kali . ini. Sebenarnya masih banyak
lagi bentuk-bentuk bid’ah lainnya, yang tidak mungkin kami sebutkan satu-
persatu di sini. Hendaknya kaum muslimin dapat menghindari amalan- amalan bid’ah
tersebut, agar bulan Ramadhan yang suci ini tidak ternodai.

~ by Chanifanch on April 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: