Agar Ibadah Puasa Lebih

Agar Ibadah Puasa Lebih

Bermakna

Abu Umar Basyir

Bulan Ramadhan merupakan bulan nan pernuh berkah; Ramadhan menjadi penghulu segala bulan dalam hitungan tahun Hijriyah, tahunnya umat Islam. Ramadhan adalah bulan shiyam (puasa), dan dia juga bulan qiyam (shalat malam).

Keutamaan Bulan Ramadhan

Hadits-hadits yang mengupas keutamaan bulan nan agung ini, cukup banyak dan bercorak ragam. Cukup kita petik beberapa di antaranya, sebagai penambah muatan motivasi yang mengangkat gairah imani kita untuk memasuki bulan Ramadhan yang akan datang menjelang, dengan penuh harap akan ampunan dan karunia-Nya. Dari Ubadah bin Shamit bahwasanya Rasulullah bersabda, yang artinya: “Telah datang kepadamu Bulan Ramadhan, bulan nan penuh berkah. Di bulan itu Allah akan menaungimu; menurunkan .rahmat dan menghapus dosa-dosa, mengabulkan doa dan memperhatikan bagaimana kamu sekalian saling berlomba-lomba (dalam kebaikan) pada bulan itu. Allah pun

membanggakan dirimu di hadapan para malaikat-Nya. Maka perlihatkanlah

(wahai kaum Muslimin) segala kebaikan pada dirimu. Sesungguhnya orang

yang celaka adalah orang yang kehilangan rahmat Allah.” (Diriwayatkan oleh

Imam Ath-Thabrani).

Hadits yang lain: “Telah dianugerahkan kepada ummatku pada bulan Ramadhan lima karunia yang tidak pernah diberikan kepada ummat manapun sebelum mereka: Aroma mulut orang yang berpuasa, disisi Allah, lebih harum semerbak ketimbang bau kesturi. Para malaikat memohonkan bagi mereka ampunan hingga waktu berbuka. Setiap hari di bulan itu, Allah menghiasi Jannah-Nya seraya berfirman kepada sang Jannah: “Tak lama lagi, para hamba-Ku yang shalih akan dibebaskan dari beban dan kesusahan, lalu beranjak menemuimu.” Di bulan itu, para jin pembangkang dibelenggu; mereka tak dapat bebas berbuat, seperti pada bulan-bulan yang lain. Lalu, Allah mengampuni dosa- dosa mereka pada malam terakhir.

Ada sahabat yang bertanya: “Ya Rasulallah, apakah malam terakhir itu,

malam Lailatul Qadar?”. Beliau menjawab: “Bukan, karena orang yang beramal akan mendapati ganjarannya, bila ia telah selesai menunaikannya.” 1

Ada beberapa hadits lain yang senada dengan itu. Dua hadits di atas, dan banyak lagi yang lainnya meliputi beberapa kesimpulan:

1. Allah telah memberkahi bulan Ramadhan ini sebagai bulan pengampunan

atas segala dosa, bagi orang yang memenuhi bulan ini dengan beragam

ibadah; tetapi tidak untuk dosa-dosa beaar. Nabi bersabda: “Barangsiapa

yang beribadah pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan

introspeksi diri, akan Allah ampuni dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Al-

Bukhari dan Muslim) Dan Salman Al-Farisi, bahwasanya Rasulullah bersabda:

“Antara shalat-shalat lima waktu; antara Jum’at dengan Jum’at;

dan antara Ramadhan yang satu dengan rmadhan berikutnya; ada

pengampunan dosa, bagi mereka yang menghindari dosa-dosa besar.”

Dosa-dosa besar hanyalah diampuni, lewat taubat tersendiri yang dilakukan

seorang hamba dengan penuh penyesalan di hadapan Allah. Hanya saja

sebagian ulama, di antaranya Ibnu Taimiyyah, Imam Nawawi dan lain-lain

menegaskan; bahwa Ibadah Ramadhan, berikut shaum dan shalat

malamnya, bila dilakukan dengan penuh keikhlasan berarti sudah mencakup

taubat itu sendiri. Dan itulah yang menjadi tujuan puasa, bahkan seluruh

ibadah seperti tertera dalam al-Qur’an adalah: Agar kamu sekalian bertakwa.

2. Termasuk keberkahan bulan suci Ramadhan adalah sempitnya ruang gerak

setan itu untuk melancarkan godaan dan tipu dayanya terhadap bani Adam.

Terbelenggunya mereka, adalah dengan kehendak Allah dan dalam

pengertian yang sesungguhnya. Namun juga tidak berarti mereka berhenti

menggoda manusia secara total, seperti tersebut dalam hadits di atas.

3. Dihiasinya Jannah untuk menyambut kedatang an orang-orang yang

berpuasa, seusai menjalani cobaan Allah selama masa hidup di dunia. Ini

salah satu bentuk Tabsyir atau kabar gembira dari Allah.

4. Keberkahan bulan Ramadhan juga terungkap jelas, dengan adanya para

malaikat yang memohonkan ampunan kepada Allah bagi mereka yang

berpuasa. Di samping aroma mulut orang yang berpuasa yang secara lahir

mungkin tidak sedap di sisi Allah lebih wangi dibanding aroma kesturi.

Berbagai Keutamaan Lain

Sebagai Muslim yang mengharap keutamaan dan ampunan, di mana dia juga tak lepas dari noda dan dosa, maka noda dan dosa itu dapat terkurangi bahkan terhapus lewat ibadah di bulan Ramadhan. Segala bentuk ragam ibadah di bulan ini harus semaksimal mungkin kita mefaatkan di antaranya:

1. Memperbanyak Shadaqah

Imam Tirmidzi meriwayatkan:

Rasulullah pernah ditanya: “Sedekah apakah yang paling utama?”

Beliau menjawab: “Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan

Ramadhan.”

Nabi adalah orang yang gemar bersedekah. Kegemarannya bersedekah, menjadi semakin meningkat di bulan Ramadhan. Salah seorang sahabat telah berkata: “Sesungguhnya Rasulullah itu lebih pemurah, dibandingkan dengan angina yang berhembus. Dan terutama lagi di bulan Ramadhan.”

2. Shalat malam berjama’ah

Dari Abu Dzar, bahwasanya beliau menuturkan:

“Dahulu ketika kami melakukan shaum/puasa, Rasulullah tidak pernah

shalat (malam) berjama’ah bersama kami hingga bulan Ramadhan hanya

tersisa tujuh hari lagi. Lalu beliau shalat bersama kami hingga akhir

sepertiga malam pertama. Pada malam yang ke dua puluh enam, beliau tak lagi shalat bersama kami. Namun pada malam ke dua puluh lima (satu malam sebelumnya), beliau sempat shalat bersama hingga pertengahan malam. Lalu kami bertanya: “Ya Rasulallah, apakah tidak engkau sisakan sebagian malam agar kami menambah shalat sendiri?” Maka beliau bersabda:

“Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam hingga selesai

shalatnya, akan dituliskan baginya (pahala) shalat semalam untuknya.”

Hadits tersebut umumnya digunakan oleh para ulama untuk menetapkan

disyari’atkannya shalat malam berjama’ah (tarawih) pada bulan Ramadhan. Namun hadits tersebut juga secara lebih khusus menyiratkan keutamaan shalat malam berjama’ah di bulan Ramadhan itu. Meskipun secara umum, juga berlaku untuk setiap shalat jama’ah, balk yang fardhu maupun yang mustahab.

Syaikh Nashiruddin al-Albani menegaskan: Sabda beliau: “Barangsiapa yang shalat (malam) bersama imam”, itu jelas menunjukkan keutamaan shalat malam Ramadhan berjama’ah. Hal itu dikuatkan, dengan riwayat dari imam Abu Dawud dalam “Al-Masail” hal. 62: Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya: “Mana yang lebih menarik hatimu, orang yang shalat berjama’ah atau shalat

sendiri?” Beliau menjawab: “Tentu saja orang yang shalat berjama’ah.” Beliau juga pernah ditanya: “Bagaimana kalau orang yang shalat sendiri itu mengakhirkan shalat hingga akhir malam (pada waktu yang paling utama)?” Beliau menanggapi: “Sunnah kaum Muslimin tetap lebih aku sukai.”

3. Memperbanyak amalan akhirat

Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, adalah ladang subur untuk menebarkan beragam amal shalih untuk dituai hasilnya di akhirat nanti. Dan mulai membaca al- Qur’an, memberi makan orang miskin atau memberinya sekedar makanan untuk berbuka puasa, berdoa, beristigfar, mempererat hubungan silaturrahmi dan lain-lain. Banyak kaum Muslimin yang secara tradisi, memenuhi bulan suci ini dengan bekerja di luar kebiasaan; demi untuk merayakan ‘Iedul _tri dengan mewah penuh kegemerlapan, bahkan terkesan dipaksa-paksakan; itu jelas merugian. Di ladang pahala, kita justru menanam amalan duniawi yang lebih banyak menghasilkan kesia-siaan. Padahal telah diingatkan dalam satu hadits mauquf (hanya sampai kepada sahabat) dari Hasan bin Ali: “Apabila engkau mendapati seseorang melomba kamu dalam urusan dunia, maka lombalah dia dalam urusan akhirat.”

4. Menjalankan umrah

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ganjaran umrah di bulan Ramadhan, sama dengan ganjaran melaksanakan haji sekali atau bahkan haji bersamaku.”

Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim All Jarullah dalam “Majmu’ Rasail

Ramadhan iyyah” menyatakan: “Namun yang perlu dipahami, bahwa umrah di bulan Ramadhan itu, meskipun ganjarannya sama dengan ibadah haji, namun ia tidak menggugurkan kewajiban haji itu sendiri bagi mereka yang mampu

berkewajiban”.

5. Beribadah di malam Lailatul qadri

Para ulama menyatakan, bahwa malam itu disebut dengan Lailatul qadri (malam kemuliaan), karena kemuliaan dan keutamaannya. Bahkan dinyatakan, bahwa dimalam itu juga rizki dan ajal kematian para hamba untuk selama satu tahun ditentukan Allah. Sebagaimana difirmankan-Nya: “Pada malam itu dijelaskan, segala urusan yang penuh hikmat.” (Ad- Dukhan: 4)

Banyak ayat yang menceritakan tentang keutamaannya yang tidak kami sebutkan di sini. Di malam itu juga pahala amal ibadah Allah lipatgandakan. Nabi Bersabda: “Barangsiapa yang beribadah di malam Lailatul qadri, dengan penuh

keimanan dan perhitungan; akan diampuni segala dosa-dosanya yang

terdahulu.”Adapun waktu malam tersebut, banyak sekali diperselisihkan para ulama. Imam Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam “Fathul Bari”, setelah menuturkan puluhan pendapat para ulama, berkata: “Pendapat yang paling kuat, malam itu terdapat pada sepuluh malam terakhir. Ia selalu berpindah, namun yang paling diharapkan dia akan muncul, pada malam-malam ganjil. Adapun tepatnya; menurut Syafi’iyyah pada malam ke 21 atau 23. Tapi menurut sebagian besar ulama pada malam ke 27.”

Demikian juga pendapat syaikh al-Albani dalam “Qiyamul lail” . Para ulama sering mengungkapkan, bahwa hikmah tersembunyinya kepastian malam itu, adalah agar kaum Muslimin giat beribadah pada setiap malam bulan Ramadhan, Wallahu A’lam.

6. I’tikaf

Lepas dari perselisihan di mesjid mana i’tikaf itu disyari’atkan, kaum Muslimin tetap harus mengakui kesepakatan para ulama bahwa i’tikaf di bulan Ramadhan, khususnya sepuluh hari terakhir, adalah keutamaan besar sekaligus sunnah yang tak pernah ditinggalkan Nabi seumur hidupnya hingga beliau wafat.

Dari Abu Hurairah berkata: “Nabi dahulu beri’tikaf setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun di mana beliau wafat, beliau beri’tikaf selama dua puluh hari.”

Karena ia merupakan sunnah yang selalu dilakukan Nabi, maka kaum Musliminpun harus merentang jalan demi melaksanakannya sedapat mungkin, di mesjid manapun i’tikaf itu dilakukan. Oleh sebab itu, para ulama yang memilih pendapat bahwa i’tikaf itu hanya di tiga mesjid utama (mesjid Al-Haram, An-Nabawi dan Al-Aqsha), mereka menjadikan dalil “dilarangnya melakukan perjalanan sulit kecuali ke tiga mesjid” untuk dibolehkannya mencapai mesjid itu dengan upaya keras, karena di sana disyari’atkannya i’tikaf, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Ash-Shan’ani dalam “Subulu as- Salam”.

Pendapat ke dua ini termasuk yang dipilih Syaikh Muhammad Nashiruddin al-

Albani Hafidzahullahu Ta’ala seperti beliau jelaskan dalam kitabnya “Qiyamu ar-

Ramadhan”. Adapun bagi mereka yang berpendapat disyari’atkannya i’tikaf itu di setiap mesjid jami’, merekapun harus berusaha menghidupkan kembali sunnah Nabi yang sudah lama ditinggalkan ini.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam

Menjalankan Puasa Ramadhan

Syaikh Abdullah bin Jarillah menyebutkan beberapa hal yang seyogyanya diperhatikan oleh orang yang berpuasa. Di sini kami nukil secara ringkas, dengan disertai sedikit tambahan dan takhrij ringkas beberapa haditsnya.

1. Mengenal hukum-hukum puasa

Banyak kaum Muslimin yang memasuki bulan puasa ini tanpa bekal ilmu

tentang puasa sama sekali. Celakanya, mereka juga tak begitu merasa perlu

untuk belajar. Padahal Allah ta berfirman:

“Bertanyalah kepada para ulama, kalau kamu sekalian tidak

mengetahui.” (An-Nahl: 43)

2. Menyambut puasa dengan hura-hura, bukan dengan banyak berdzikir,

beristigfar dan mensyukuri nikmat Allah. Klimaksnya, bulan yang penuh

berkah ini tidaklah menggiring mereka untuk semakin bertakwa; tapi

sebaliknya, semakin terbuai seribu satu kemaksiatan.

3. Sebagian kaum Muslimin, memasuki bulan Ramadhan dengan gambaran lahir

seperti orang-orang yang bertaubat. Mereka shalat, berpuasa dan

meninggalkan banyak kemaksiatan yang biasa dilakukan.

Namun seusai bulan puasa, mereka kembali menjadi pecinta kemaksiatan.

Seolah- olah, mereka hanya mengenal Allah di bulan nan suci ini. Atau

mungkin mereka hanya memandang ibadah di bulan ini sebagai satu tradisi.

Nabi bersabda: “Barangsiapa yang beribadah hanya untuk didengar orang,

maka Allah pun akan memberi ganjaran dengan sekedar (ibadah itu) didengar

orang. Barangsiapa yang beribadah untuk sekedar dilihat orang, demikian

juga Allah akan memberinya ganjaran.”

4. Ada juga sebagian kaum Muslimin yang beranggapan bahwa bulan

Ramadhan ini cocok dijadikan waktu untuk beristirahat, tidur-tiduran dan

bermalas-malasan di siang hari, lalu begadang di malam hari. Bahkan

seringkali, begadang malam itu dibumbui dengan hal-hal yang dapat

mengundang kemurkaan Allah. Dengan permainan, mengobrol kesana

kemari, berghibah, bahkan kadang terjadi berjudi, wal ‘iyadzu billah.

5. Selain itu, ada juga kaum Muslimin yang menyambut bulan ini dengan dingin

dan tak bergairah. Kalau sudah berlalu, ia akan kegirangan. Mereka beribadah

dan berpuasa, semata-mata mengikuti kebiasaan manusia di sekitarnya.

Alangkah miripnya mereka dengan keadaan orang-orang munafik yang

memang senang bermalas-malasan dalam ibadah. Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (berusaha) menipu Allah,

tetapi Allah-lah yang akhirnya menipu mereka. Dan apabila mereka

berdiri untuk bershalat mereka berdiri dengan malas….” (An-Nisa: 142)

Rasulullah juga bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya shalat yang

paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan Shubuh.”

(HR. Al-  Bukhari dan Muslim).

6. Banyak di antara mereka yang begadang malam untuk hal-hal yang tidak

bermanfaat, sampai-sampai meninggalkan subuh berjama’ah. Padahal

Rasulullah bersabda: “Tidak dibolehkah begadang itu melainkan bagi orang

yang shalat (malam), atau musafir.”

7. Sebagian di antara mereka menghindari diri dari berbagai pembatal puasa;

seperti makan, minum, berjima’ dan lain-lain. Tetapi mereka tak berusaha

menghindari hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa; seperti bebas

melihat aurat wanita di jalan-jalan (bahkan terkadang menjadi kebiasaan

sehabis shubuh dan menjelang berbuka), atau di majalah-majalah, berghibah,

mencaci-maki orang dan lain sebagainya.

8. Suka berdusta Ada sebagian kaum Muslimin yang menganggap ringan

berkata dusta, termasuk di bulan suci Ramadhan, di kala berpuasa. Padahal

Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang tidak juga meninggalkan

berkata-kata dusta dan masih juga melakukannya (di kala berpuasa), maka

Allah tak sedikitpun sudi menerima ibadah puasanya, meski ia meninggalkan

makan dan minum.”

9. Satu hal yang aneh, namun benar-benar sering terjadi; seseorang berpuasa,

tapi tidak shalat. Atau terkadang ada yang rajin shalat, tapi selalu beralasan

tidak kuat berpuasa. Padahal sungguh tidak ada manfaat orang itu berpuasa

kalau dia tidak shalat. Karena shalat adalah pilar dien/agama Islam.

10. Ada juga sebagian kaum elit di kalangam Muslimin yang sengaja bersafar

terkadang keluar negeri agar mendapat keringanan untuk tidak berpuasa.

Padahal Allah Maha Mengetahui apa yang terbetik dalam hati hamba-Nya.

11. Sebagian kaum Muslimin, ada yang berbuka puasa dengan mengkonsumsi

sesuatu yang haram. Terkadang minuman keras, rokok (itu banyak terjadi),

serta makanan dan minuman yang didapat dan usaha yang haram.

Selain itu, beliau juga menyebutkan beberapa hal lain yang layak

diperhatikan. Dan juga masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang

dilakukan sebagian kaum Muslimin dalam melakukan ibadah puasa.

Terkadang, bahkan merusak bingkai kerja dari puasa itu sendiri; yaitu

menahan diri dan makan dan minum. Bentuknya? Dengan mengumbar nafsu

makan dan minum tatkala berbuka puasa. Ibnu Taimiyyah mengungkapkan

penafsiran yang bagus tentang hadits nabi : “Sesungguhnya setan itu

mengalir dalam tubuh manusia mengikuti aliran darah.”

Beliau berkata: “Orang yang puasa dilarang makan dan minum karena

keduanya adalah sebab tubuh itu menjadi kuat. Dan makanan dan minum

itulah yang dapat menghasilkan banyak darah, tempat di mana setan ikut

berjalan mengaliri tubuh manusia. Sesungguhnya darah yang di telusupi

setan itu memang berasal dari makanan dan minuman, bukan dari suntikan

atau faktor keturunan.”

Manfaat-Manfaat Ibadah Puasa

Syaikh Ali Hasan dalam “kitabu Ash-Shiyam” menuturkan beberapa faedah puasa berdasarkan keterangan dari beberapa hadits. Akan kami sebutkan di sini dengan ringkas:

1. Puasa itu adalah perisai

Bagi mereka yang masih diamuk jiwa muda dan syahwat membara, namun masih belum terbuka pintu menuju pelaminan; disyari’atkan baginya untuk mengekang keinginan syahwatnya itu dengan berpuasa. Rasulullah bersabda, yang artinya: “Wahai pemuda-pemudi, barangsiapa di antara kamu yang sudah memiliki kemampuan seksualitas, hendaknya ia menikah. Karena menikah itu lebih dapat memelihara pandangan dan kemaluan. Kalau ia belum mampu menikah, hendaknya ia berpuasa.

Sesungguhnya puasa itu adalah obat penawar gejolak syahwat.” Lebih khusus lagi Rasulullah juga bersabda yang artinya: “Puasa itu ibarat perisai, ia akan menamengi seorang samba dari siksa neraka.” Nah khusus di bulan Ramadhan, sebulan penuh seorang Muslim akan diasah jiwanya dengan puasa sehingga bisa terbentengi dari sergapan setan yang selalu memperalat hawa nafsu untuk menjungkirkan seorang hamba ke jurang neraka. Tentu saja hal itu utama bagi mereka yang berkeinginan dengan puasanya untuk mencapai ketakwaan kepada Allah swt.

2. Puasa adalah jalan menuju Jannah (surga)

Dari Umamah berkata: “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah aku satu amalan

yang akan menggiringku menuju Jannah.” Beliau bersabda: “Lakukan puasa,

tak ada amalan yang setara dengannya.”

3. Puasa dapat menjadi perantara turunnya syafa’at

Rasulullah bersabda, yang artinya: “Puasa dan al-Qur’an akan memberi syafat kepada seorang hamba di hari kiamat nanti. Sang puasa berkata: “Ya Allah, aku telah menghalanginya makan dan mengumbar nafsu, jadikanlah aku perantara untuk menyampaikan syafa’at-Mu kepadanya.

4. Dua saat kebahagiaan bagi orang yang berpuasa

Nabi bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua saat-saat penuh kebahagiaan: kala ia berbuka, dan, di saat ia menjumpai Rabb-nya (selepas hidup di dunia).

5. Pintu Rayyan di Jannah (surga), bagi kaum yang berpuasa

Dari Sahal bin Sa’ad, dari Nabi bahwasanya beliau bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya di Jannah kelak, ada pintu yang bernama Rayyan. Dari

situlah kaum yang berpuasa akan masuk Jannah di hari kiamat. Tak

seorangpun kecuali mereka yang akan memasukinya. Bila orang terakhir

di antara mereka telah masuk, pintu segera ditutup; dan barangsiapa (di

antara yang masuk) meminum sedikit airnya, niscaya ia tak akan dahaga

selamanya.” Allah-lah Pencipta segala kebahagiaan, kepada-Nyalah’ kembali akhir kehidupan. Selayaknya kita menyambut bulan yang penuh berkah dengan penuh gairah dan kegembiraan. Di sanalah, dan dari sanalah kita akan beranjak dengan taufik Sang Maha Rahman menuju Jannah-Nya yang penuh kebahagiaan.

~ by Chanifanch on April 13, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: