Perjalanan Mencari Kebenaran

Perjalanan Mencari Kebenaran, Seorang Laki-laki bernama Salman al-Farisi
Mukadimah
Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah  Yang kami memuji-Nya, kami
memohon pertolongan dan pengampunan dari-Nya, kami berlindung dari
kejelekan jiwa-jiwa kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang
mendapatkan petunjuk Allah, tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, tidak ada yang dapat menunjukinya.
Saya bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang Haq untuk disembah melainkan Allah,
tiada sekutu bagi-Nya dan Muhammad  adalah hamba dan utusan Allah .
Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam atas nabi terakhir, Muhammad,
keluarganya dan para sahabatnya yang mulia.
Di masa sekarang ini, banyak orang ingin tahu akan Islam, tetapi pengetahuan
mereka mengenai agama ini bervariasi. Pengetahuan mereka mungkin
diperoleh melalui artikel, buku, atau bagian dari sebuah buku rujukan yang
mereka baca di sekolah. Mereka mungkin mengetahui sebagian orang Muslim,
melewati sebuah Masjid, menonton film dokumenter atau berita malam, atau
mungkin telah mengunjungi negara Muslim. Bagi sebagian orang, Islam
‘hanyalah sebuah agama yang lain’, tetapi untuk sebagian besar lainnya, Islam
telah menjadi sesuatu yang menarik untuk dicermati. Saya menulis buku ini
bagi mereka yang selalu mencari dalam diri mereka jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaan yang dimilikinya. “Siapa Aku? Siapakah Tuhan yang
sebenarnya? Apakah jalan keselamatan yang sebenarnya? Apakah Islam itu? Jika
saya menjadi seorang Muslim, apa artinya bagi diriku, keluargaku, dan
masyarakat secara luas?”
Sekarang ini, banyak orang yang menyadari bahwa semua kemajuan
materaialistik dan sekular yang terjadi di dalam masyarakat telah melahirkan
kevakuman spiritual, yang pada gilirannya membawa kepada persoalanpersoalan
sosial, ekonomi, politik dan psikologi. Untuk alasan inilah, orangorang
yang sebelumnya berkata: “Mari kita jalani hidup ini dan menikmatinya.”
atau “Hai! Kita tidak ingin mengenal Tuhan,” sekarang ini kembali mencari
kebenaran. Mereka mengajukan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan di
atas. Hal ini karena fitrah manusia mengenal baik dan buruk, dan apa yang
benar dan yang dusta. Tidak merasa nyaman ketika sifat-sifat Allah
direndahkan, dan juga ketika sifat-sifat manusia dihubungkan dengan-Nya. Ia
(fitrah manusia-pent.) mengetahui bahwa tidak mungkin ada lebih dari satu
Perjalanan Mencari Kebenaran
Tuhan yang haq, dan karenanya hanya ada satu agama yang benar yang
diterima oleh-Nya. Allah tidak meminta sebagian dari ciptaan-Nya untuk
menyembah-Nya semata, manakala (pada saat yang sama) memerintahkan
untuk menyembah Yesus, Budha, api, cahaya, Khrisna, Josept Smith, matahari,
bulan, Khomeini, Rama, kuil, para Nabi, Eliyah, Farakhan, salib, pohon, para
wali, para pendeta, rahib, atau lainnya.
Segalah sesuatu selain Allah adalah mahluk! Mereka tidak sempurna. Mereka
membutuhkan yang lainnya, tetap Allah Maha Kaya. Dia lah Yang Awal dan
tidak ada sesuatu sebelum-Nya, dan Yang Akhir, dan tidak ada sesuatu setelah-
Nya. Kepada-Nya lah semuanya kembali. Dia tidak beranak dan tidak
diperanakkan. Tidak ada manusia yang memberi-Nya nama Allah, sebaliknya
Dia lah yang memberikan nama ini bagi diri-Nya. Artinya ‘Satu-satunya
Sesembahan yang haq Yang patut dibadahi’. Dia bukanlah tuhan dari suatu
kaum atau suku. Dia adalah Pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu, hanya
Allah saja yang berhak memperoleh ketundukan kita, dan Dia menyebutkan
ketundukan ini dengan ‘Islam’.
Namun demikian, kebingungan terjadi pada sebagian manusia ketika orangorang
mulai menyembah mahluk, baik itu bernyawa ataupun tidak bernyawa,
selain Allah! Dalam wahyu yang terakhir diturunkan kepada manusia, Al-Qur’an,
Allah secara jernih menjelaskan tujuan penciptaan manusia di dunia. Secara
lahir dan batin, manusia diseru untuk hidup yang sejalan dengan ketetapan
Allah. Inilah arti ibadah dalam Islam, dan inilah tujuan kita semua diciptakan.
Namun demikian, ada orang-orang yang mengakui Allah sebagai Satu-satunya
Tuhan yang haq untuk disembah disembah, tetapi tidak menjalani
kehidupannya sesuai dengan perintah Allah. Ibadah mereka menyelisihi apa
yang dari Islam. Mreka bukanlah orang-orang yang atas mereka penilaian akan
kriteria islam dijatuhkan. Islam adalah agama yang sempurna, tetapi orangorang
(yang menganutnya) tidak. Kita diseru untuk masuk ke dalam Islam.
Tujuan dari buku ini adalah untuk menyeru kepada manusia untuk mencari
keselamatan mereka dengan menelaah kisah sebuah pencarian panjang oleh
seseorang yang bernama Salman Al-Farisi. Kenapa tidak? Apakah kita
mengetahui semuanya? Ketika kita mengetahui bahwa kita bahkan tidak
memiliki udara yang kita hirup, dan bahwa kita tidak diciptakan secara sia-sia,
dan kita tidak menciptakan diri kita sendiri, maka adalah wajar ketika
seseorang memiliki keinginan untuk mengenal lebih jauh tentang Allah, Yang
Menciptakan kita, Memberi kita Kehidupan, dan Dia yang suatu hari akan
memanggil kita kembali kepada-Nya. Pada hari itu, akan ada kenikmatan abadi
atau siksaan abadi.
Perjalanan Mencari Kebenaran
____________________________________________________________________________________________________________

Salman dan Kisahnya Awal

Tidak ada seorang pun yang dapat mengabarkan kisah Salman lebih baik dari
dirinya sendiri. Salman  menceritakan kisahnya kepada salah seorang sahabat
dan keluarga dekat Nabi Muhammad  yang bernama Abdullah bin Abbas ,
yang kemudian menceritakannya kembali kepada yang lainnya.1 Ibnu Abbas
berkata:
Salman berkata, “Aku seorang dari bangsa Persia yang berasal dari
Isfahaan2 dari sebuah desa yang dikenal dengan nama Jayyun. Ayahku
adalah kepala desa. Baginya, aku adalah mahluk Allah yang paling
dicintainya. Cintanya kepadaku sampai pada batas dimana dia
mempercayaiku untuk mengawasi api3 yang dia nyalakan. Dia tidak akan
membiarkannya mati.”
Ini adalah sebuah petunjuk akan sikap baik seorang anak kepada ayahnya. Disini
Salman menggunakan nama yang benar dari Tuhan yang haq, Allah. Nama Allah
adalah nama yang sama digunakan oleh seluruh Nabi dan Rasul . Allah adalah
nama Tuhan yang sama dalam bahasa Ibrani dari nabi kita Isa .
Sebuah Agama yang Berbeda?
“Ayahku memiliki areal tanah subur yang luas. Suatu hari, ketika dia sibuk
dengan pekerjaannya, dia menyuruhku untuk pergi ke tanah itu dan memenuhi
beberapa tugas yang dia inginkan. Dalam perjalanan ke tanah tersebut, saya
melewati gereja Nasrani. Saya mendengarkan suara orang-orang shalat di
dalamnya. Saya tidak mengetahui bagaimana orang-orang di luar hidup, karena
ayahku membatasiku di dalam rumahnya! Maka ketika saya melewati orangorang
itu (di gereja) dan mendengarkan suara mereka, saya masuk ke dalam
untuk melihat apa yang mereka lakukan.”
1 Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. (Penulis menukil hadits ini dan
meringkasnya di beberapa tempat –pent.)
2 Sebuah daerah di Barat Daya Iran.
3 Ayah Salman adalah seorang Majusi yang menyembah api.
Perjalanan Mencari Kebenaran

Munculnya Ketertarikan
“Ketika saya melihat mereka, saya menyukai shalat mereka dan menjadi
tertarik terhadapnya (yakni agama). Saya berkata (kepada diriku), ‘Sungguh,
agama ini lebih baik daripada agama kami’”
Salman memiliki pemikiran yang terbuka, bebas dari taklid buta.
“Saya tidak meninggalkan mereka sampai matahari terbenam. Saya tidak pergi
ke tanah ayahku.”
Salman kemudian merenungkan agama ini yang pada saat itu dianggapnya
sebagai keimanan yang benar. Sebuah perspektif dan hati yang baik yang terisi
kesabaran adalah kemuliaan yang dibutuhkan untuk membebaskan diri
seseorang dari batas-batas pemikiran seperti: “Baiklah saya akan mencari tahu,
tetapi saya sangat sibuk sekarang,” dan lain-lain. Kematian mungkin saja
mengetuk pintu lebih cepat daripada yang diharapkan.
“Saya bertanya (yakni kepada orang-orang di gereja), ‘Darimana asal agama
ini?”
Mencari tahu asalnya adalah petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencari
agama yang benar. Asal dan intisari (pokok) adalah istilah-istilah mendasar
yang membantu dalam proses pencarian. Darimana asal agama Islam dan apa isi
pokok (ajarannya)? Islam datang dari Allah , Pencipta, Tuhan yang haq, dan
intinya adalah berserah diri kepada-Nya
Mereka menjawab: ‘Dari Syam4’. Kemudian saya kembali kepada Ayahku yang
sedang khawatir dan mengirim (seseorang) untuk mencariku. Ketika saya tiba
dia bertanya. “Wahai anakku! Dari mana engkau? Bukankah aku
mempercayakanmu untuk sebuah tugas?” Saya berkata, “Wahai ayah, saya
melewati orang-orang yang sedang shalat dalam gereja mereka dan saya
menyukai agama mereka. Saya tinggal bersama mereka sampai matahari
terbenam.’”
Ini adalah kejujuran menakjubkan yang ditunjukkan oleh seseorang yang
mengetahui dengan benar bahwa ayahnya sangat komitmen terhadap
agamanya. Ini adalah bentuk keterbukaan yang harus dimiliki oleh seseorang
yang mencari kebenaran.
4 Yang dikenal dengan negara Syam sekarang ini termasuk empat negara, yaitu: Syiria, Yordania, Palestina
dan Lebanon.

Penentangan
“Ayahku berkata, ‘Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu,
agamamu dan agama ayahmu dan agama nenek moyangmu lebih baik.’”
Ini adalah topik dari semua orang yang taklid buta dalam perkara keimanan. Ini
mengingatkan kita kepada firman Allah ,
 

                 
 #$
      % &  $               ! ”

“Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan
sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya,
supaya kamu dapat mengalahkan mereka”. (QS Al-Fushilat [41] : 26)
“Bahkan mereka berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami
menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat
petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka”.” (QS Az-Zukhruf [43] : 22)
“Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami
dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”.” (QS Luqman [31] : 22)
“Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek
moyang kami yang dahulu.” (QS Al-Mu’minuun [23] : 24)
Seringkali, jika anda berbicara dengan orang yang masuk Islam dari agama lain,
mereka berkata bahwa mereka mendengar (sesuatu) yang sama (dengan) yang
Allah sebutkan mengenai orang-orang kafir. Perkara ini adalah sama. Ia datang
dalam bentuk, “Apakah kamu akan meninggalakan agama bapakmu dan nenek
moyangmu?” Tidak hanya itu, tetapi orang tua dan keluarga secara luas berdiri
berhadapan (maksudnya menentang-pent.) dengan sang muallaf. Besarnya
penentangan ini bisa berupa keadaan atau ancaman terhadap kehidupan
sampai pada boikot. Ini adalah kecenderungan umum, namun demikian, ada
beberapa kasus penentangan yang sangat sedikit bahkan netral.

“Saya berkata, ‘Tidak, demi Allah, ini lebih baik dari agama kita.’”
Salman mencintai ayahnya, tetapi dia tidak menyanjungnya. Dia tidak
berkompromi mengenai apa yang dia rasakan pada saat itu sebagai kebenaran.
Apa tanggapan ayahnya?
Salman berkata, “Dia mengancamku, merantai kedua kakiku dan
memenjarakanku di rumahnya.”
Seorang ayah menyakiti anaknya tercinta untuk mengubah pendiriannya dari
mencari kebenaran. Banyak Nabi ditentang, dituduh, dianiaya oleh anggota
keluarganya sendiri karena penentangan mereka terhadap ‘tradisi turun
temurun’! Apakah Salman berhenti samapai disana?
Jalan Keluar
Ia berkata, “Saya mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani tersebut meminta
mereka memberi kabar akan kedatangan para pedaganng Nasrani dari Syam.
Rombongan pedagang tiba dan mereka mengabariku, maka kukatakan (kepada
orang-orang Nasrani tersebut) untuk memberi tahu kapan rombongan pedagang
itu menyelesaikan urusannya dan bergerak kembali ke negrinya. (Lalu) saya
dikabari (oleh mereka) ketika orang-orang Syam telah menyelesaikan
perdagangan mereka dan bersiap-siap untuk kembali ke negrinya, maka saya
lepaskan rantai dari kakiku dan mengikuti rombongan itu sampai tiba di Syam.”
Dia tidak menyerah pada perintah zalim ayahnya. Dia bertekad untuk
kebenaran, yang akhirnya membawanya mengetahui kebenaran mengenai Sang
Pencipta, Allah .

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar
akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS Al-Ankabut [29] : 69)
Salman berketetapan hati dan mulai mencari kebenaran, tidak perduli
kenyataan bahwa negeri tersebut jauh dan asing baginya. Allah , mengetahui
kejujurannya, membimbingnya dengan memudahkan baginya untuk
mendapatkan sesuatu yang dipergunakan untuk melakukan perjalanan ke Syam.

Inilah dia, Tetapi…!
“Pada saat kedatanganku, saya bertanya, “Siapakah yang paling alim diantara
semua orang dari agamamu ini?’”
Salman mencari kebenaran yang nyata, dan karenaya dia mencari orang yang
paling beriman diantara penduduk Syam. Kenapa tidak? Orang-orang menyukai
makanan terbaik, pasangan terbaik, dan pakaian terbaik. Salman mencari yang
terbaik dalam hal keimanan.
“Mereka berkata, ‘Pendeta, (dia ada) di dalam gereja.’ Saya datang kepadanya
dan berkata, ‘Saya menyukai agama ini, dan saya ingin menyertaimu dan
berkhikmad di gereja, agar saya dapat belajar darimu dan shalat bersamamu.’”
Salman menyadari sejak awal bahwa ilmu hanya dapat diperoleh dengan
menyertai ahlinya (orang yang memiliki ilmu-pent.). Sebagai balasannya, dia siap
menawarkan dirinya sebagai pelayan dari pendeta tersebut. Kerendahan dari
oang-orang yang mencari kebenaran membawa mereka lebih dekat dan lebih
dekat kepada kebenaran itu. Tidak adanya sikap rendah diri ini, berlaku
sombong; orang-orang melihat tanda-tanda kebenaran, tetapi keangkuhannya
membawa mereka kepada kehancuran.

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka)
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa
kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan.” (QS An-Naml [27] : 14)
Harta, status sosial, dan faktor-faktor materi lainnya seharusnya tidak menahan
seseorang dari mencari kebenaran, yang pada akhirnya akan berpengaruh
terhadap masa depannya. Semua hal ini akan hilang, dan orang tersebut akan
memasuki kuburnya tanpa sesuatu apapun kecuali amal-amalnya. Amal-amal ini
adalah yang berada dalam hati (iman), dan dari perkataan dan perbuatan
anggota badan, yang merupakan manifestasi dari amalan-amalan hati. Apakah
aku telah berserah diri kepada Penciptaku? Apakah aku hidup menuruti
perintah-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan oleh ajaran
Rasul terakhir, Muhammad ? Hanya inilah yang akan bermanfaat pada Hari
Pengadilan.
“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orangorang
yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS Asy-Syu’araa [26] :
88-89)

“Dia (pendeta itu) berkata, ‘Engkau boleh masuk dan tinggal bersamaku,’ maka
saya pun bergabung bersamanya.” Setelah beberapa waktu, Salman
menemukan sesuatu pada pendeta tersebut. Dia adalah seorang laki-laki yang
buruk yang memerintahkan dan menganjurkan kaumnya untuk membayar
sedekah, hanya untuk menyimpannya bagi dirinya sendiri. Dia tidak
memberikannya kepada orang-orang miskin. Dia telah menimbun tujuh guci
emas dan perak!
“Saya membencinya karena perbuatannya.”
Jelas bahwa kebenciannya terhadap sang pendeta tidak menghentikannya
mencari kebenaran. Allah Ta’ala menunjukinya, mengetahui keikhlasannya
dalam mencari kebenaran.
“Dia (pendeta itu) meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul untuk
menguburkannya. Saya memberitahu mereka bahwa dia adalah seorang yang
jahat, yang memerintahkan dan mendorong orang-orang untuk memberikan
kepadanya sedekah hanya untuk disimpannya sendiri, dan dia tidak
memberikannya kepada orang-orang miskin. Mereka berkata, ‘Bagaimana
engkau mengetahuinya?’ Saya menjawab, ‘Saya dapat menunjukkan kepada
kalian harta simpanannya.’ Mereka berkata, ‘Tunjukkanlah kepada kami!’ Maka
saya menunjukkan kepada mereka tempat (dimana dia menyimpan hartanya)
dan mereka menemukan darinya tujuh buah guci yang dipenuhi tumpukan emas
dan perak. Ketika mereka melihatnya mereka berkata, ‘Demi Allah kami tidak
akan menguburkannya.’ Mereka mencac-maki dan melemparnya dengan
batu.’”5
5 Catatan: Sebuah poin yang penting disini adalah bahwa Salman tidak berbalik dari apa yang
dianggapnya sebagai kebenaran pada saat itu karena perbuatan seseorang. Dia tidak berkata, “Lihatlah
orang-orang Nasrani ini! Yang terbaik diantara mereka sangat buruk!” Sebaliknya, dia memahami bahwa
dia harus menilai agama tersebut pada ajarannya, dan bukan pada para pengikutnya.

Keinginan itu Sangat Kuat
Salman berkata, “Mereka menggati pendeta mereka. Demi Allah saya tidak
pernah melihat seseorang yang shalat lima waktu lebih baik darinya; tidak juga
seseorang yang lebih zuhud dari kehidupan dunia ini dan sangat condong
kepada akhirat, tidak juga seseorang yang lebih bersungguh-sungguh bekerja
siang dan malam (dibanding dengannya). Saya mencintainya lebih daripada
orang lain yang saya cintai sebelumnya.”
Ada lima shalat sehari semalam yang diwajibkan dalam Islam. Allah
mengajarkan kepada Nabi Muhammad  tata cara mengerjakan shalat beserta
waktunya. Itu bukanlah jenis shalat yang dibuat dan dilaksanakan oleh sebagian
orang. Shalat adalah fondasi Islam. Apabila dilaksanakan sesuai dengan cara
Nabi , maka dia akan mensucikan seseorang dari dosa-dosa dan kesalahannya
yang dilakukannya pada hari tersebut.
“Saya tinggal bersamanya selama beberapa waktu sebelum dia meninggal.
Ketika ajalnya hampir tiba saya berkata kepadanya, “Wahai fulan, saya tinggal
bersamamu dan mencintaimu lebih dari apapun yang saya cintai sebelumnya.
Kini takdir Allah (yakni kematian) telah tiba, apa yang engkau wasiatkan
kepadaku agar kupegang, dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?”
Salman mulai berpikir siapa yang akan diikutinya ketika sang pendeta tiada. Dia
kembali berpikir untuk mencari seorang yang shalih dan berilmu. Keinginan dan
kesiapannya untuk mencari kebenaran telah tetap.
“Sang pendeta berkata, ‘Demi Allah, orang-orang telah merugi; mereka telah
merubah dan mengganti (agama) apa yang mereka berada di atasnya. Saya
tidak mengetahui seorang pun yang masih berpegang kepada agama yang saya
berada di atasnya kecuali seorang laki-laki di Musil6, maka bergabunglah
dengannya.’ (dan dia memberikan Salman nama orang tersebut).”
6 Al-Musil: Kota besar di barat laut Iraq.

Langkah Berikutnya
Ketika pendeta itu meninggal, Salman berangkat ke al-Musil dan bertemu
dengan orang yang disebutkan. “Saya berkata kepadanya, “Fulan, pada saat
kematiannya mewasiatkan kepadaku untuk bergabung bersamamu. Dia berkata
engkau berpegang pada (agama) yang sama dengannya.’ Laki-laki Musil
tersebut berkata kepada Salman untuk tinggal bersamanya. ‘Saya tinggal
bersamanya dan mendapati dirinya seseorang yang terbaik yang berpegang
kepada perkara (agama) sahabatnya.’”
“Lalu dia meninggal,” kata Salman. Ketika ajal mendatanginya, Salman
meminta kepadanya (sebagaimana yang dia lakukan sebelumnya dengan
sahabatnya yang pertama) untuk mewasiatkan orang lain yang berada di atas
agama yang sama. Laki-laki itu berkata, “Demi Allah! Saya tidak mengenal
seseorang pada perkara (agama) yang sama seperti kami kecuali seorang lakilaki
di Nasibin7 dan namanya adalah (fulan bin fulan), maka pergi dan
bergabunglah dengannya.”
Kembali, Langkah Berikutnya
“Setelah kematiannya, saya melakukan perjalanan menuju kepada laki-laki dari
Nasibin.” Salaman menemukan orang tersebut dan tinggal bersamanya selama
beberapa waktu. Peristiwa yang sama terjadi. Ajal menghampiri, dan sebelum
orang itu meninggal, Salman datang kepadanya dan bertanya akan wasiatnya
kepada siapa dan kemana dia pergi. Laki-laki tersebut mewasiatkan Salman
untuk bergabung dengan seorang laki-laki lain di Amuriyah8 yang juga berada di
atas agama yang sama.
Salman pindah ke Amuriyah setelah kematian sahabatnya. Dia menemukan
orang yang di dimaksudkan dan bergabung bersamanya dalam agamanya.
Salman (pada saat itu) bekerja dan, mendapatkan beberapa ekor sapi dan dan
seekor kambing.’
Cara mencari nafkah yang baik dan halal adalah sangat penting bagi orangorang
yang beriman. Tentu saja pengaruh uang sangat besar, banyak orang
telah menjual diri dan prinsip-prinsipnya dengan harga yang murah, dan banyak
yang menjadi munafik demi uang. Namun demikian, ada orang-orang yang
berdiri di atas kebenaran tidak perduli apapun yang mungkin mereka lewatkan.
Hal ini membawa kedamaian di hati dan pikiran.
7 Nasibin: Sebuah kota di tengah perjalanan antara Musil dan Syam.
8 Amuriyah: Sebuah kota yang merupakan bagian dari Wilayah Timur Kekaisaran Romawi.

Sebuah Langkah Besar
Ajal mendekati laki-laki Amuriyah tersebut. Salman mengulang permintaannya,
tetapi (kali ini) jawabannya berbeda. Laki-laki itu berkata, “Wahai anakku!
Saya tidak mengenal seorang pun yang berpegang pada perkara (agama) yang
sama dengan kita. Namun demikian, seorang Nabi akan datang pada masa
kehidupanmu, dan Nabi ini berada pada agama yang sama dengan agama
Ibrahim.”
Pendeta itu mengenal milah Ibrahim. Ini adalah asal dari tauhid, dan seruan
untuk beribadah hanya kepada Allah semata. Pendeta tersebut mengetahui
dengan benar bahwa Ibrahim mengatakan kepada anak-anaknya:

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah
memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk
agama Islam”. (QS Al-Baqarah [2] : 132)
Ibrahim menikahi Sarah dan Hajar. Keturunannya dari perkawinannya dengan
Sarah adalah Ishak, Yaqub, Daud, Sulaiman, Musa dan Isa, alaihimush shalatu
wassalam; dan keturunannya dari perkawinannya dengan Hajar adalah Ismail
dan Muhammad . Ismail dibesarkan di Makkah di Arab, dan Muhammad 
adalah dari keturunan beliau.
Pendeta tersebut mengetahui bahwa keimanan Ibrahim adalah keimanan yang
benar untuk diikuti. Dia tentunya telah membaca janji Allah untuk menjadikan
‘Kaum Besar’ dari keturunan Ismail (Genesis 21:18), dan oleh karena itu dia
mewasiatkan Salman untuk pergi dan bergabung dengan Nabi , yang berasal
dari keturunan Ismail, yang berserah diri kepada Allah dan mengikuti millah
Ibrahim.

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka,
yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta
mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS Al-Baqarah [2] : 129)
“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim
seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.” (QS An-Nahl [16] : 123)

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang
mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman
(kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang
beriman.” (QS Al-Imran [3] : 68).
Laki-laki itu menggambarkan Nabi ini, berkata, “Dia akan diutus dengan agama
yang sama dengan (agama) Ibrahim. Dia akan datang di negeri Arab dan akan
hijrah ke wilayah antara dua wilayah yang dipenuhi oleh batu-batu hitam
(seolah telah terbakar api). Ada pohon-pohon kurma tersebar ditengah-tengah
kedua tanah ini. Dia dapat dikenali dengan tanda-tanda tertentu. Dia (akan
menerima) dan makan (dari) makanan yang diberikan sebagai hadiah, tetapi
tidak akan makan dari sedekah. Stempel kenabian akan berada diantara
pundaknya. Jika engkau dapat pindah ke negeri itu, maka lakukanlah.”
Laki-laki tersebut mengetahui tentang kedatangan seorang Nabi dari bangsa
Arab, dari saudara Bani Israil (Deuteronomy 18, 17-18: “Saya akan
membangkitkan seorang nabi diantara mereka, seperti engkau (yakni Musa)9
9 Seorang Nabi yang menyerupai Musa :
Perbandingan Isa  Muhammad  Musa 
Kelahiran Biasa * Biasa* Biasa*
Kehidupan Keluarga Tidak menikah, tidak
memiliki keturununa
Menikah, memiliki
keturunan
Menikah, memiliki
keturunan
Kematian Belum mati Biasa ** Biasa**
Terpaksa hijrah (di
masa dewasanya)
Tidak Ke Madinah Ke Madyan
Penulisan wahyu setelah kepergiannya di masa kehidupannya di masa kehidpannya
Penerimaan atas
kepemimpinannya
(dari kaumnya)
Ditolak oleh sebagian
besar bani Israil
Ditoak lalu diterima Ditolak lalu diterima
*Maksudnya dilahirkan sebagaimana umumnya manusia dilahirkan dari rahim seorang ibu –pent.
**Maksudnya mengalami kematian sebagaimana kematian yang dialami oleh manusia pada umumnya.
dan akan menempatkan perkataan-Ku di mulutnya.10 Dan dia akan mengatakan
kepada mereka semua yang Aku perintahkan kepadanya”). Tentu saja, ayat ini
tidak merujuk kepada Yesus sebagaimana yang berusaha diterjemahkan oleh
Paul (Act 13:22-23). Yesus bukanlah dari keturunan Ismail dan dia sendiri
adalah dari Bani Israil,11 dia bukan dari saudara mereka (Bani Isranil).
Laki-laki tersebut mengetahui apa yang disebutkan dalam kitab mereka
mengenai wahyu Tuhan (Allah) datang dari Timan (bagian utara kota Madinah di
negeri Arab, menurut kamus Injil J. Hasting), dan ‘Ruhul Qudusi’ datang dari
Faran.12 Menurut Genesis 21:21, pegunungan Faran adalah tempat dimana Nabi
Ismail  bertempat tinggal dan memiliki dua belas anak, salah satu
diantaranya adalah Kedar, anak kedua Ismail . Dalam Isaiah 42:1-13,
‘kekasih Tuhan’ dihubungkan dengan keturunan Kedar, nenek moyang Nabi
Muhammad .
Ketika Nabi Muhammad  mendakwahi penduduk Makkah untuk berserah diri
kepada Allah, sebagian besar mereka menolak, dan berencana untuk
membunuh Nabi . Beliau bersama orang-orang yang masuk Islam
diperintahkan oleh Allah untuk hijrah ke Madinah. Lalu perang terjadi di Badar
antara “sedikit orang dengan persenjataan seadanya’ diwakili oleh Muhammad
 dan para pengikutnya, dan kaum kafir dari Makkah, setahun setelah Nabi 
hijrah. Nabi  dan para sahabatnya memperoleh kemenangan (Isaiah 21 : 13-
17).
Laki-laki tersebut mengetahui bahwa Yesus (Isa ) memberitahukan tentang
kedatangan Nabi Ahmad  (Muhammad ).13 Ini adalah berita gembira yang
Allah kabarkan melalui lisan Yesus (Isa ).
10 Muhammad  berumur 40 tahun ketika beliau berada di gua ira di Makkah ketika Malaikat Jibril
memerintahkan kepadanya, “Bacalah!” Muhammad  erasa ketakutan dan menjawab, “Saya tidak dapat
membaca!” Kemudian Jibril membacakan dan Nabi  mengikuti (membaca firman Allah,
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan
perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq [96] : 1-5)
11 Perhatikan juga bahwa Injil merujuk kepada bani Israil sebagai ‘saudara’ dari Ismail. Contoh: Gen, 16:12
dan Gen 25:18.
12 “Tuhan (wahyu-Nya) datang dari Timan, dan Ruhul Qudus datang dari Gunung Faran Selah.
Kemuliannya meliputi langit dan bumi dipenuhi oleh pujiannya.” (Habakkuk 3:3)
13 Ahmad secara lafazh berarti: ‘orang yang paling banyak memuji Allah lebih daripada yang lainnya’. Ini
adalah nama kedua Nabi Muhmmad  yang berkata dalam sebuah hadits shahih,

‘Aku memiliki lima nama: Aku adalah Muhmmad dan Ahmad, Aku Al-Maahi yang melaluiku Allah
menghapuskan kekafiran, aku adalah Al-Hasyr yang akan menjadi pertama yang dibangkitkan, dan aku
adalah al-Aqib (yakni tidak ada Nabi setelahku).” (HR Bukhari)
“Dan (ingatlah) ketika ‘Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya
aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu
Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang
akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).”” (QS Ash-Shaf
[61] : 6)
Laki-laki itu meninggal dan Salman tinggal di Amuriyah. Suatu hari, “Beberapa
pedagang dari Bani Kalb14 melewatiku,” Salman berkata, “Saya berkata kepada
mereka, ‘Bawalah saya ke negeri Arab dan Saya akan memberikan sapi-sapi dan
kambing yang aku miliki.’” Mereka berkata, “Baiklah.” Salman memberikan
kepada mereka apa yang dia tawarkan, dan mereka pun memebawa Salman
ikut bersama mereka. Ketika mereka mendakati Wadi Al-Qura (dekat dengan
Madinah), mereka menjualnya sebagai budak kepada seorang Yahudi. Salman
tinggal bersama Yahudi tersebut, dan dia melihat pohon-pohon kurma (yang
digambarkan oleh sahabatnya sebelumnya). “Saya berharap ini adalah tempat
yang sama dengan yang digambarkan sahabatku.” Kata Salman. Suatu hari,
seorang laki-laki yakni sepupu majikan Salman dari suku Yahudi Bani Quraidha
di Madinah datang berkunjung. Dia membeli Salman dari majikan Yahudi-nya,
“Dia membawaku ke Madinah. Demi Allah! Ketika saya melihatnya, saya tahu
itulah tempat yang disebutkan oleh sahabatku.”
“Kemudian Allah mengutus Rasul-Nya (yakni Muhmammad ). Dia tinggal di
Makkah selama beberapa waktu.15 Saya tidak mendengar apapun tentangnya
karena saya sangat sibuk dengan pekerjaan sebagai budak, dan kemudian
beliau hijrah ke Madinah.”
Lebih lanjut Salman berkata, “(Suatu hari) saya sedang berada di atas pohon
kurma di puncak salah satu rumpun kurma melakukan beberapa pekerjaan
untuk majikanku. Saudara sepupunya datang kepadanya dan berdiri di
hadapannya (majikan Salman sedang duduk) dan berkata, ‘Celaka Bani Qilah
(orang-orang dari suku Qilah), mereka berkumpul di Quba16 disekitar seorang
laki-laki yang datang hari ini dari Makah mengatakan (dirinya sebagai) seorang
Nabi!”
“Saya bergetar hebat ketika mendengarnya hingga saya khawatir saya akan
jatuh menimpa majikanku. Saya turun dan berkata, “Apa yang engkau katakan?
Apa yang engkau katakan?” Majikanku menjadi marah dan memukulku dengan
pukulan yang kuat seraya berkata, “Apa urusanmu mengenai ini? Pergi dan
14 Salah satu suku Bangsa Arab
15 Selama 13 tahun setelah beliau menerima wahyu dari Allah
16 Di kota Madinah
kerjakanlah pekerjaanmu!” Saya berkata, “Tidak, saya hanya ingin memastikan
apa yang telah ia katakan”.
‘Pada malam itu, saya pergi untuk menemui Rasulullah  ketika beliau berada
di Quba. Saya membawa serta apa yang saya simpan. Saya masuk dan berkata,
‘Saya telah diberitahu bahwa engkau adalah seorang laki-laki yang shalih dan
para sahabatmu adalah orang-orang asing yang membutuhkan. Saya ingin
memberikan kepadamu sesuatu yang saya simpan sebagai sedekah. Saya
melihat kalian berhak mendapatkannya lebih daripada orang yang lain.’”
Salman berkata, “Saya menawarkan kepadanya; dia berkata kepada para
sahabatnya, ‘Makanlah,’ tetapi dia sendiri menjauhkan tangannya (yakni tidak
makan). Saya berkata kepada diriku sendiri, ‘Inilah dia (yakni salah satu tandatanda
kenabiannya).
Setelah pertemuannya dengan Nabi , Salman kembali untuk mempersiapkan
ujian berikutnya! Kali ini dia membawa hadiah untuk Nabi  di Madinah. “Saya
melihat engkau tidak makan dari sedekah, karena itu (ambillah) hadiah ini yang
dengannya saya ingin menghormati engkau.” Nabi  makan darinya dan
memerintahkan para sahabatnya untuk melakukannya, yang diikuti oleh
mereka. Saya berkata kepada diriku, ‘Sekarang ada dua (yakni dua tanda
kenabian).’”
Pada pertemuan ketiga, Salman datang ke Baqi’ul Gharqad (tempat
pemakaman para sahabat Nabi ) dimana Nabi  sedang menghadiri
pemakanan salah seorang sahabatnya. Salman berkata, “Saya menyapanya
(dengan sapaan Islam: ‘Assalamu’alaikum’), dan kemudian berputar ke
belakangnya hendak melihat stempel (kenabian) yang digambarkan kepadaku
oleh sahabatku. Ketika beliau  melihatku, beliau mengetahui bahwa saya
sedang berusaha membuktikan sesuatu yang digambarkan kepadaku. Beliau
melepaskan kain dari pnggungnya dan saya melihat stempel itu. Saya
mengenalinya. Saya membungkuk dan menciumnya dan menangis. Rasulullah 
memerintahkanku untuk berbalik (yakni berbicara kepadanya). Saya
menceritakan kisahku sebagaimana yang saya kisahkan kepadamu, Ibnu Abbas
(ingat bahwa Salman sedang menceritakan kisahnya kepada Ibnu Abbas). Beliau
 sangat menykainya sehingga memintaku menceritakan seluruh kisahku
kepada para sahabatnya.”

Penghambaan Hanya Kepada Allah
Salman melanjutkan kisahnya kepada Ibnu Abbas:
Dia masih menjadi milik (budak) majikannya. Dia tidak ikut dua peperangan
menghadapi kaum kafir Arab. Nabi  berkata kepadanya, “Buatlah perjanjian
(dengan tuanmu) untuk kebebasanmu, hai Salman.” Salam mematuhi dan
membuat perjanjian (dengan tuannya) untuk kebebasannya. Dia mendapatkan
persetujuan dengan majikannya dimana dia akan membayar majikannya 40
ukiyah emas dan berhasil menanam 300 pohon kurma yang baru. Nabi 
berkata kepada para sahabatnya, “Bantulah saudaramu.”
Mereka membantunya dengan pohon kurma dan mengumpulkan baginya jumlah
yang diminta. Nabi  memerintahkan Salman untuk menggali lubang yang
cukup untuk menanam bibit, dan beliau menananam setiap bibit dengan
tangannya sendiri. Salman berkata. “Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya,
tidak satupun pohon yang mati.” Salman memberikan pohon-pohon tersebut
kepada majikannya. Nabi  memberi Salman emas sebesar telur ayam dan
berkata, “Bawalah ini, Wahai Salman, dan bayarlah utamngmu.” Salman
berkata: “Berapa banyak ini dibandingkan dengan jumlah hutangku?” Nabi 
bersabda: “Ambillah! Sesungguhnya Allah  akan mencukupkan sejumlah
hutanmgu.”17 Saya mengambilnya dan menimbang sebagiannya dan ia seberat
40 ukyah. Salman memberikan emas itu kepada tuannya. Dia telah memenuhi
perjanjian dan dia dibebaskan.
Sejak saat itu, Salman menjadi sahabat dekat Nabi .
Salah seorang sahabat Nabi  bernama Abu Hurairah meriwayatkan: “Kami
sedang duduk bersama Rasulullah  ketika Surat Al-Jumu’ah diturunkan. Beliau
membacanya:
“dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan
dengan mereka.” (QS Al-Jumu’ah [62] : 3)
17 Sebuah mukjizat dari Allah (yang dimaksud adalah bahwa dengan jumlah yang terlihat tidak menckupi
tersebut, Allah lah yang telah mencukupkannya untuk pembayaran hutang Salman kepada majikannya -pent.)
Seseorang diantara mereka berkata, ‘Ya Rasulullah! Siapakah yang orang
disebutkan dan belum bergabung dengan kita?’ Tetapi Rasulullah  tidak
menjawabnya sampai dia bertanya tiga kali. Salamn al-Farisi berada diantara
kami. Rasulullah  meletakkan tangannya pada Salman dan kemudian berkata,
‘Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, meskipun jika iman dekat Ats-
Tsurayya, laki-laki dari mereka (yakni Salman) tentu akan mendapatkannya.”
(Sunan at-Tirmdizi).
Tetapi Mereka Akan Datang!
Banyak orang di dunia ini seperti Salman, mencari kebenaran mengenai Satusatunya
Tuhan yang haq. Kisah Salman ini serupa dengan kisah orang-orang di
zaman kita. Mereka mencari sebagian orang, mengambil dari satu gereja ke
gereja yang lain, dari gereja kepada Budha atau pada sikap pasif, dari Yahudi
kepada ‘Netralitas’, dari agama kepada meditasi kepada penyiksaan mental.
Saya telah bertemu dan mendengar mengenai sebagian orang yang berpindah
dari satu ide kepada ide lainnya, tetapi terlalu takut bahkan untuk mengetahui
sesuatu tentang Islam! Namun demikian, ketika mereka bertemu orang-orang
Muslim, mereka membuka pikirannya. Kisah Salman merupakan sebuah
pencarian yang panjang. Anda dapat mencari kebenaran lebih singkat dengan
cara mengambil manfaat dari kisah Salman ini.
Referensi:
1) Qisaat Islam Salman oleh Husain Al-Uwaisyah.
2) Tabel pada halaman 12 diambil dari buku, Muhammad in the Bible setelah
mengoreksi perkara mengenai kematian Yesus (Isa ). Yang benar adalah Isa
tidak mati. Allah menyelamatkannya dari penyaliban dan dia dinaikkan ke
surga. Kematiannya akan terjadi sebelum Hari Kiamat setelah beliau kembali
ke bumi. Ketika berada di bumi, Yesus (Isa ) akan memerintah dengan
kitabullah, Al-Qur’an dan dengan ajaran Nabi Muhammad, shallallahu alaihis
salam.

~ by Chanifanch on April 18, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: