Hadits Tentang Jumlah Takbir Shalat ‘Ied


Studi Kritis Hadits Tentang Jumlah Takbir Shalat ‘Ied
Abu Asma Kholid Syamhudi

Dari `Aisyah, bahwa Rasulullah bertakbir dalam shalat ‘Iedul Fithri
dan Adha; pada raka ‘at pertama tujuh takbir dan raka’at kedua lima
kali.
Takhrij Al Hadits
Hadits Aisyah ini 1 dikeluarkan oleh Abu Dawud 2, Al Faryabi 3, Al Hakim 4
dan Al Baihaqi 5 dari dua jalan periwayatan yang sampai kepada Ibnu Lahi’ah
Disalin dari majalah As-Sunnah 08/VII/1424H hal 9 – 12.
1Takhrij ini merupakan basil rangkuman dengan sedikit penambahan penulis dari refcrensi
berikut ini:
1. Irwa’ Al Ghalil Fi Takhrij Ahaditsi Manari As Sabil, karya Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al Albani
2. Ghauts Al Makdud Bi Takhrij Al Muntaqa Libnil Jarud, karya Abu Ishaq Al
Huwaini.
3. Taqrib At Tandzib, karya Ibnu Hajar.
4. Tanwirul ‘Ainain Bi Ahkamil Adhahi Wal ‘Iedain, karya Abut Hasan Al Ma’ribi.
2dalam Sunan-nya 1/299 no.1149.
3dalam Ahkamul ‘Iedain 1/134
4dalam Mustadrak-nya 1/298.
5dalam Sunan Kubra 3/286.
1
dari’Ugail bin Khalid bin’Agil dari Muhammad bin Muslim bin Abdillah bin
Ubaidillah bin Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari A’isyah.
Imam Al Hakim berkomentar tentang hadits ini, “Ibnu Lahi’ah seorang diri
dalam meriwayatkannya.”
Syaikh Al Albani berkata,
“Dia (Ibnu Lahi’ah) perawi lemah dari sisi hafalannya. Namun
Abdullah bin Wahb meriwayatkan hadits ini dari Ibnu Lahi’ah dari
Khalid bin Yazid dari Ibnu Syihab dengan tambahan lafadz (selain
dua takbir ruku).”
Hadits dengan lafadz tambahan ini dikeluarkan oleh Abu Dawud, 6 Ibnu
Majah, 7 Ath Thahawi, 8 Ad Daraquthni, 9 Al Baihaqi 10 dan Ahmad
bin Hambal 11
Ishaq bin Isa dan Amru bin Khalid juga meriwayatkan hadits ini bersama
Abdullah bin Wahb dari Ibnu Lahi’ah. Jalan periwayatan Ishaq bin ‘Isa
dikeluarkan oleh Ad Daraquthni 2/46 no. 180 dan AI Hakim dalam
Mustadraknya 1/298.
Adapun riwayat ‘Amru bin Khalid dikeluarkan oleh Ad Daraquthni 2/46 no
180, Al Hakim dalam Mustadrak-nya 1/298 dan Al Baihaqi dalam Sunan-nya 3/
286.
Imam Ath Thahawi 12 juga meriwayatkan hadits ini dari jalan Ibnu Lahi’ah
dari Abul Aswad dari Urwah dari Abu Waqid Al Laitsi dan ‘Aisyah, dengan
lafadz:
Bahwa Rasulullah mengimami shalat, lalu bertakbir dalam shalat
‘Iedul Fithri dan Adha. Beliau takbir pada raka’at. pertama tujuh
kali dan membaca surat Qaf, dan pada raka’at kedua lima kali dan
membaca surat Al Qomar.
6dalam Sunan-nya 1/299 no. 1150.
7dalam Sunan-nya 1/407 no. 1280.
8dalam Syarhu Ma’ani Al Atsar 2/399.
9dalam Sunan-nya no. 180.
10dalam Sunan Al Kubra 3/287.
11dalam Musnad-nya 6/70.
12dalam Syarhu Ma’ani Al Atsar 4/343-344.
2
Beliau juga meriwayatkan hadits semisal ini dari jalan Ibnu Lahi’ah dari ‘Ugail
dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah. Sedangkan Ath Thabrani 13 dan Ad
Daraquthni 14 meriwayatkan dari jalan Ibnu Lahi’ah secara tahdits 15 dari Yazid
bin Abi Habib dan Yunus dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah dari ‘Aisyah dengan
lafadz hadits:
Rasulullah bertakbir dalam shalat ‘Iedul Fithri dan Adha. Pada
raka’at pertama tujuh dan kedua lima kali sebelum membaca Al
Fatihah.
Banyak riwayat yang berbeda-beda dari Ibnu Lahi’ah, sehingga Imam Ath
Thahawi dan Ad Daruquthni melemahkannya, menganggapnya sebagai hadits
muththorib. 16 Demikian juga imam Al Bukhari melemahkan hadits ini. 17
Lalu, apakah pernyataan para ulama di atas mengharuskan lemahnya hadits
ini? Jawabnya, Kita harus melihat kepada syarat iththirab yang mengharuskan
pelemahan hadits, yaitu jalan periwayatannya sama kuat dan tidak mungkin
dikompromikan (cara jama’) dan ditarjih.
Dalam hadits ini syarat iththirabnya tidak lengkap, karena jalan-jalan
periwayatan yang ada sampai kepada Ibnu Lahi’ah tidak sama kekuatannya.
Hal ini disebabkan adanya riwayat Abdullah bin Wahb darinya (Ibnu Lahi’ah).
Riwayat Ibnu Wahb ini lebih didahulukan daripada yang lainnya, sebagaimana
dinyatakan Imam Muhammad bin Yahya Adz Dzuhli,
“Menurut kami, yang rajih ialah hadits riwayat Khalid bin Yazid,
13dalam Mu’jamul Ausath 3/270/3115.
14dalam Sunan-nya 2/46.
15
tahdits diriwayatkan dengan menggunakan lafazh haddatsa, Red.
16
Hadits muththarib adalah hadits yang memiliki beberapa sisi periwayatan yang berbeda-
beda dalam hal matan atau sanad dari seorang perawi atau lebih, jika riwayat-riwayat
tersebut sama kuatnya dan tidak mungkin dirajihkan. (Lihat Al Baitsul Hadits
Syarh Mukhtashar Ulwnil Hadits, karya Syaikh Ahmad Syakir dengan ta’liq Syaikh
Muhamad Nashirudin Al Albani 1/221).
17Lihat kitab Al Ilal, karya At Tirmidzi 1/289.
3
karena Ibnu Wahb mendengarkan hadits Ibnu Lahi’ah terdahulu
(sebelum hafalannya berubah rusak, pen).
Barangsiapa yang mendengar darinya (Ibnu Lahi’ah) terdahulu, maka
dia lebih diutamakan (untuk diterima), karena ia mukhthalath 18 pada
akhir hidupnya.” 19
Syaikh Al Albani berkata,
“Namun yang rajih menurut saya, ialah riwayat Ibnu Lahi’ah
dari Khalid bin Yazid dari Ibnu Syihab. Karena ia merupakan
riwayat Ibnu Wahb darinya (Ibnu Lahi’ah) dan riwayat itu shahih.
Abdulghani bin Sa’id Al Adzdi berkata,
‘Jika Al Abadilah meriwayatkan (hadits) dari Ibnu Lahi’ah,
maka ia shahih. Al Abadilah adalah Abdullah bin Al
Mubarak, Ibnu Wahb dan Al Mugri’.
Hal ini juga disampaikan Imam As Saji dan yang lainnya,
sebagaimana dalam kitab Tandzib At Tandzib. Imam Baihaqi telah
mengisyaratkan kepada tarjih kami, ketika memberikan komentar
setelah menyampaikan riwayat ini. Imam Muhammad bin Yahya Adz
Dzuhli menyatakan,
‘Inilah yang rajih, karena Ibnu Wahb mendengarkan hadits
Ibnu Lahi’ah terdahulu,’
18lkhthalath dalam istilah ulama hadits, ialah berubahnya hafalan seorang perawi sehingga
tidak dapat membedakan antara hadits yang dimilikinya dengan hadits orang lain, yang
disebabkan usia tua atau kitab miliknya hilang dan lain-lainnya.
Imam As Sakhawi menyatakan,
“Hakikat lkhthalat (menurut ulama hadits), yaitu rusak akal serta tidak
terkontrolnya pernyataan dan perhuatan (yang) disebabkan ketuaan, kccelakaan,
Nita, sakit karena kematian anaknya, pencurian harta (seperti Al Mas’udi) atau
kchilangan bukunya (seperti Ibnu Lahi’ah) atau terbakar buku-bukunya (seperti
Ibnu Al Mulaqqin).” Lihat Fathul Mughits 3/366.
19Dinukil oleh Imam Baihaqi dalam Sunan-nya 3/287.
4
sehingga sanadnya shahih. Imam Ad Daraquthni secara jelas
menyatakan tandits dan ia mendengarnya dari Khalid bin Yazid.
Wallahu a’lam.” 20
Ada beberapa hadits lain yang semakna dengan hadits ‘Aisyah ini, yang mungkin
menjadi penguat keabsahannya. Diantaranya:
1. Hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Rasulullah
dengan lafadz:
Takbir dalam ‘Iedul Fitri tujuh kali pada raka’at pertama, dan
lima kali dalam raka’at kedua sebelum membaca Al Qur’an.
Hadits ini dikeluarkan Imam Abu Dawud 1/299 no.1151 dari jalan
periwayatan Musaddad dari Abdullah bin Abdurrahman Ath Thai dari
Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, yaitu sahabat Abdullah
bin Amru bin Al Ash.
Demikian juga Imam Abdurrazaq Ash Shan’ani dalam Al Mushannaf no.
5677, Ibnul Jarud dalam Al Muntaqa no 269, 21 Ad Daruquthni, 22 dan Al
Baihaqi 23 meriwayatkan dari Abu Nu’aim dari Amru bin Syu’aib dengan
lafadz:
Bahwa Rasulullah bertakbir dalam shalat ‘Iedul Fithri tujuh kali
pada raka’at pertama dan lima kali pada raka’at terakhir, selain
takbir shalat.
Abu Ishaq AI Huwaini menyatakan,
“Sanadnya baik, dan ini hadits yang shahih dengan syahid-
syahidnya..” 24
20Irwaul Ghalil 3/107-108.
21lihat Ghauts Al Makdud 1/229.
22dalam Sunan-nya 2/48.
23dalam Al Ma’rifah 3/37 no. 1894.
24Ghauts Al Makdud Bi Takhrij Al Muntaqa Libnil Jarud 1/229.
5
Kesimpulannya, semua hadits Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari
kakeknya berkisar pada Abdullah bin Abdirrahman Ath Thai, sehingga
Imam Ath Thahawi menyatakan,
“Hadits ini hanya berporos pada Abdullah bin Abdirrahman.
Menurut mereka, riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah.”
Ibnu Hajar mengomentari tentangnya,
“Abdullah bin Abdirrahman bin Ya’la bin Ka’b Ath Thai Abu
Ya’la Ats Tsaqa shaduq yukhti wa yahim.” 25
Hadits Amru bin Syu’aib ini dishahihkan Imam Ahmad, Ali bin Al Madini,
Al Bukhari, Al Albani, Abu Ishaq Al Huwaini dan Abul Hasan Al Ma’ribi
serta yang lainnya.
Al Albani setelah menyatakan, hadits ini dishahihkan Imam Ahmad, All
dan Al Bukhari dalam riwayat At Tirmidziy (Al Abani) berkata,
“Mungkin ini karena syahid-syahidnya, 26 diantaranya hadits
‘Aisyah.”
Abu Ishaq Al Huwaini berkata,
“Abdullah bin Abdurrahman dilemahkan para ulama, namun
mu’tabar 27.”.” 28
Abul Hasan Al Ma’ribi berkata,
25Termasuk tingkatan keempat bermakna shaduq (baik) dalam keadalahannya (kemampuannya
menjaga ketaqwaan), bermakna orang baik dalam agamanya namun dalam riwayat kurang
kuat hafalannya karena kekeliruan (yahim) dan kesalahan (yukhti) yang dimilikinya
(Penulis). Lihat At Taqrib, halaman 311.
26
Syahid adalah jalan periwayatan lain yang berbeda sahabat perawi haditsnya yang dapat
menguatkan hadits tertentu (Penulis).
27Mu’tabar, bermakna masih dapat dijadikan sandaran keabsahan walaupun memiliki
kelemahan (Penulis).
28Ghauts Al Makdud Bi Takhrij Al Muntaqa Libnil Jarud 1/229.
6
“Ibnu Rajab dalam Fathul Bari 9/85 menyatakan,
‘Harb bertanya kepada Ali bin Al Madini, apakah
ada hadits shahih dari Nabi (dalam hal jumlah
takbir, pen.)?’ Dia menjawab,’Hadits Amru bin
Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya dari Nabi.’ lalu
menyatakan,’Dan diriwayatkan dengan shahih dari Abu
Hurairah secara mauquf.’ 29
Ahmad bin Hambal menyatakan,’Saya berpendapat demikian’.”
Lalu Abul Hasan berkata lagi,
“Jika para imam tersebut telah menshahihkan hadits ini,
mungkin karena Ath Thai masih dipakai sebagai hujjah dalam
periwayatannya secara mutlak, atau paling tidak dalam hadits
ini saja. Inilah yang rajih.
Atau dikatakan, bahwa perawi yang memiliki kelemahan
dalam hafalannya jika jama’ah dari imam hadits meriwayatkan
dan menulis satu hadits darinya dalam karya-karya mereka.
Ditambah lagi, perawi tersebut meriwayatkan hadits tersebut
dalam satu (lafadz atau makna) -walaupun banyak yang
meriwayatkan darinya- dan tidak terjadi iththirab.
Semua ini menunjukkan kekokohannya dalam hadits tersebut;
karena perawi yang disifatkan memiliki kelemahan, tidak
mustahil dapat baik menghafal sebagian haditsnya. Hadits ini
(yaitu hadits Amru bin Syu’aib) telah memiliki indikator penguat
ini, sehingga dishahihkan para ulama besar (hadits).” 30
2. Hadits Katsir bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf dari bapaknya dari kakeknya
dengan lafadz:
29
Mauquf adalah sesuatu yang disandarkan kepada para sahabat baik berupa perkataan atau
perbuatan.
30Tanwirul ‘Ainain Bi Ahkamil Adhahi Wal ‘Iedain halaman 159.
7
Bahwa Rasulullah bertakbir dalam shalat ‘Iedain, pada raka’at
pertama tujuh kali sebelum membaca, dan di raka’at akhir lima
kali sebelum membaca.
Hadits ini diriwayatkan At Tirmidzi, 31 Ibnu Majah 32 tanpa lafadz

Z@Q®Ë@ÉJ.

, Ibnu Khuzaimah 33 dan Abdu bin Humaid 34 tanpa lafadz

Z@Q®Ë@ÉJ.
 ¯
.
Demikian juga Ath Thahawi, 35 Ibnu Qani’ 36 Ath Thabrani, 37 Ad
Daruquthni 2/48, Ibnu Adi 38 dan Al Baihaqi 39.
Katsir bin Abdillah sangat lemah sekali, hingga Imam Sya’i menyatakan,
“Ia salah satu rukun (tokoh) pendusta.” 40
3. Hadits Abdurrahman bin Sa’ad bin Amar bin Sa’ad dari bapaknya dari
kakeknya dari buyutnya dengan lafadz 41
Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah, 42 Al Hakim, 43 Ath Thabrani
44 dan Al Baihaqi 45 Pada sanadnya ada kelemahan dan iththirab. Jadi
haditsnya lemah.
4. Hadits Abdullah bin Umar, dikeluarkan oleh Ath Thahawi 4/344. Pada
sanadnya terdapat Al Faraj bin Fadhalah dan gurunya Abdullah bin’Aniir.
Keduanya perawi yang lemah.
31dalam Jami’-nya 2/416 no.536.
32dalam Sunan-nya 1/407 no.1279.
33dalam Shahih-nya 2/346 no.1438.
34dalam Al Muntakhab no. 290.
35dalam Syarhu Ma’ani Al Atsar.
36dalam Mu’jamush Shahabat 2/198.
37dalam Mu’jamul Kabir 17/14-15.
38dalam Al Kamil-nya 6/2079.
39dalam Sunan-nya 3/286.
40Irwaul Ghalil 3/109.
41Lafadz-nya senada dengan hadits sebelumnya -dari Katsir bin Abdillah bin Amru bin ‘Auf-
. Dalam sumbernya, yakni majalah As-Sunnah tidak diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia. -red. vbaitullah.
42dalam Sunan-nya 1/407 no. 1277.
43dalam Mustadrak-nya 3/607.
44dalam Mu’jamu Shaghir 2/281 no.1173.
45dalam Sunan-nya 3/288.
8
5. Hadits Abu Musa dan Hudzaifah, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam
Sunan-nya 1/299 no.1153 dan Al Baihaqi dalam Sunan-nya 3/289-290.
Dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Tsabit dan Abu ‘Aisyah.
Keduanya sangat lemah.
Kesimpulannya
Hadits tentang bilangan takbir shalat ‘Ied ini shahih dengan banyaknya syahid
yang menguatkannya. Ini bertambah kuat dengan amalan para sahabat,
diantaranya:
1. Abu Hurairah, sebagaimana diriwayatkan oleh Na’ maula Ibnu Umar
dengan lafadz:
Aku menyaksikan ‘Iedul adha dan thri bersama Abu
Hurairoh,lalu beliau bertakbir pada rakaat pertama tujuh
sebelum membaca dan rakaat terakhir lima kali membaca Al
Qur’an.
Atsar ini dikeluarkan oleh Imam Malik, 46 Asy Sya’i, 47 Ibnu Abi
Syaibah 48 dan Abdurrazaq. 49
2. Abdullah bin Umar seperti atsarnya Abu Hurairah. Syaikh Al Albani
menyatakan,
“Dikeluarkan oleh Ath Thahawi 2/399 dan sanadnya shahih.” 50
3. Ibnu Abbas, sebagaimana diriwayatkan ‘Atha dengan lafadz:
Beliau bertakbir pada shalat dua hari raya. Pada raka’at pertama
tujuh kali dengan takbir pembuka, dan pada raka’at terakhir enam
kali dengan takbir raka’at semuanya, sebelum membaca Al Fatihah
(Al Qur’an). 51
46dalam Muwatha’ halaman 145 no. 464.
47dalam Al Umm 1/395.
48dalam Mushannaf-nya No. 5702.
49dalam Mushannaf-nya no.5680, 5681 dan 5682.
50Irwaul Ghalil 3/110.
51Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 5700 dengan sanad shahih, sebagaimana
dinyatakan Al Baihaqi dan Al Albani.
9
Faidah Hadits
Hadits ini menunjukkan beberapa tata cara shalat ‘led yang dilakukan Rasulullah
, diantaranya:
1. Shalat ‘led dilakukan dua raka’at. Hal ini juga ditunjukkan oleh hadits
Umar bin Khathab yang berbunyi:
Shalat Adha dua rakaat, shalat ‘Iedul Fitri dua raka’at, shalat
musar dua raka’at, shalat Jum’at dua raka’at. Ini sempurna
tanpa di qashar (diringkas) menurut pernyataan Rasulullah. 52
2. Raka’at pertama’ shalat ‘Ied dimulai dengan takbiratul ihram, lalu
ditambah tujuh takbir. Sedangkan pada raka’at kedua dengan lima takbir
ditambah takbir pindah. Ini semua tidak termasuk takbir ruku’nya.
Imam At Tirmidzi menyatakan,
“Sebagian ahli ilmu dari kalangan sahabat dan selain mereka
mengamalkan hadits ini. Demikianlah diriwayatkan dari Abu
Hurairah, bahwa ia mengimami shalat di Madinah, sebagaimana
shalat seperti ini. Demikian pendapat ahli (penduduk) Madinah
dan juga pendapat Imam Malik bin Anas, Sya’i, Ahmad dan
Ishaq.” 53
Bahkan Imam Al Baghawi menyatakan,
“Demikian inilah pendapat kebanyakan para ulama dari kalangan
para sahabat dan yang setelah mereka. Mereka berpendapat,
bahwa takbir dalam shalat ‘ied pada raka’at yang pertama tujuh
kali selain takbir pembuka (takbiratul ihram).
Dan raka’at kedua lima kali selain takbir berdiri (dari raka’at
pertama) sebelum membaca bacaan (Al Fatihah dan surat).” 54
52Hadits ini dikeluarkan Imam Nasa’i dalam Sunan-nya 3/183 no. 1548; Ibnu Majah dalam
Sunan-nya no. 1054 ; dan Ahmad dalam Musnadnya 1/37 no 248, dengan sanad shahih.
53Jami’ At Tirmidzi 2/417.
54Diambil dari Ahkamul ‘Iedain karya Syaikh Ali bin Masan Al Flalabi yang menukil dari
Syarhu Sunnah 4/309.
10
Ibnu Taimiyah berkata,
“Adapun takbirdalam shalat ied, maka makmum bertakbir
mengikuti imam. Kebanyakan para sahabat dan para imam
bertakbir tujuh kali pada raka’at pertama, dan lima kali pada
raka’at yang kedua.” 55
Dengan demikian, jelaslah kedudukan hadits ini dan amalan para ulama salaf
dalam hal jumlah takbir shalat ‘Ied. Semoga dapat menghilangkan keraguan
sebagian pembaca, dan dapat memantapkan kita dalam mengamalkan Sunnah
Rasulullah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: