Sunnah Nabi Pada Hari Raya

Mendulang Sunnah Nabi Pada Hari Raya ‘Iedul Fitri
Abu Ihsan Al-Atsari

Idul Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam. Setelah berpuasa
sebulan penuh, siang hari menahan diri dari makan, minum dan syahwat, malam
hari menunaikan shalat tarawih berjama’ah, maka tibalah hari yang dinanti, Hari
Raya Idul Fitri. Dari sisi bahasa, ‘ied artinya sesuatu yang kembali. Yaitu suatu
hari yang akan selalu berulang kembali setiap tahun.
Kaum muslimin menyambut hari ini dengan suka cita. Setelah sebulan penuh
jiwa dan siknya dilatih melalui ibadah puasa, maka sekarang tibalah masa
pembuktian. Apakah latihan selama sebulan penuh itu berbuah ataukah tidak?
Latihan jiwa yang ditempuh dalam bulan suci ini, diharapkan membekas pada
diri; sehingga ketika keluar dari bulan Ramadhan, kita berhak mendapat gelar
muttaqin yang seperti diharapkan. Allah berrman,
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu bershiyam
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelurn kamu, agar
kamu bertagwa (QS Al Baqarah: 183).
Melalui tulisan ini, kami mengajak segenap kaum muslimin agar melewati hari
besar yang bahagia ini, yaitu dengan mengamalkan Sunnah Nabi yang berkaitan dengannya.
Disalin dari majalah As-Sunnah 08/VII/1424H hal 22 – 27.
1
Jangan sampai hari bergembira ria ini menyeret kita ke lembah dosa, seperti:
mabuk-mabukan, bercampur-baur antara lelaki dan wanita, berjabat tangan
antara pria dengan wanita yang bukan mahram, berlebihan-lebihan dalam hal
makanan dan minuman, mubadzir dan menghambur-hamburkan harta, dan lain
sebagainya. Sehingga hilanglah hikmah ‘Iedul Fitri yang agung ini.
Perlu diingat, selepas bulan Ramadhan, bukan berarti tiba masa balas dendam
untuk melampiaskan syahwat, seperti yang dibayangkan oleh sebagian kaum
muslimin. Bahkan. dengan tibanya hari ‘Ied ini, seharusnya lebih menguatkan
semangat kita dalam melakukan ketaatan kepada Allah.
Berikut ini, kami sampaikan beberapa Sunnah Nabi berkaitan dengan hari yang
agung ini.

1. Shalat ‘Ied Hukumnya Wajib
Masih banyak kaum muslimin yang tidak mengetahui hukum ini. Rasulullah
telah memerintahkan wanita haidh dan gadis dalam pingitan untuk keluar
menghadirinya. Padahal, untuk shalat-shalat wajib lainnya -seperti shalat
Jum’at- beliau mengatakan, “Shalat di rumah lebih balk bagi mereka.”
Bahkan diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib bahwa beliau mewakilkan kepada
seseorang untuk mengimami shalat ‘Ied di masjid bagi yang tidak sanggup datang
ke lapangan.
Para ulama, dari dahulu sampai sekarang -seperti: Imam Ahmad, Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah, Ash Shan’ani, Asy Syaukani, Syaikh AI Albani dan
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin- mengatakan hukumnya wajib ‘ain. 1 Shalat ‘Ied di
lapangan merupakan syi’ar kaum muslimin. Oleh karena itu, tidak selayaknya
kita meremehkan kewajiban ini. 2
1Silakan lihat Majmu’ Fatawa 24/179-183 dan Subulus Salam II/141.
2Keterangan lebih lanjut dapat anda baca penjelasannya di sini http://vbaitullah.or.id/

index.php?option=content&task=view&id=438&Itemid=43
2. Mandi Dan Berhias Diri Sebelum Berangkat
Shalat ‘Ied
Salah situ Sunnah Nabi pada hari ‘Ied, yaitu mandi sebelum berangkat
menunaikan shalat ‘led. Hendaklah memperbaiki penampilan dan mengenakan
pakaian yang bagus saat menghadiri shalat ‘led. Begitulah yang dilakukan oleh
para salaf. seperti Abdullah bin Umar beliau mandi sebelum berangkat ke
lapangan. 3
Begitu pula para tabi’in. Salah seorang tokoh tabi’in, yakni Said bin Al
Musayyib berkata,
“Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga: berjalan menuju lapangan (tempat
shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.” 4
All bin Abi Thalib, pernah ditanya tentang mandi: apakah harus mandi setiap
hari? Beliau menjawab,
“Tidak harus. Namun, yang harus mandi ialah pada hari Jum’at, had
‘Arafah, hari ‘ledul Adha dan ‘Iedul Fitri.” 5
Ibnu Abdil Barr berkata,
“Para fuqaha sepakat, bahwa mandi sebelum berangkat shalat ‘Iedul
Fitri dan ‘ledul Adha adalah balk bagi yang melakukannya.” 6
Hukumnya sunnat, seperti dijelaskan oleh Imam An Nawawi berikut ini,
“Imam Asy Syafr’i dan rekan-rekannya mengatakan, ‘Untuk
melaksanakan shalat ledul Fitri dan ledul Adha dianjurkan mandi.
Tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini’.” 7
Diriwayatkan dalam kitab Shahihain, dari Abdullah bin Umar,
3Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwaththa’, halaman 143 no. 428.
4Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam kitab Ahkamul ‘Iedain no. 18.
5Diriwayatkan oleh Imam Asy Sya’i dalam Musnad-nya 1/118-119.
6Al lstidzkar VII/11.
7Al Majmu’ I/7.
3
Umar membeli jubah yang terbuat dari sutera yang dijual di pasar.
Ia membawanya kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah,
ambillah jubah ini untuk berhias diri pada hari ‘Ied, dan saat
menyambut utusan-utusan.” Rasulullah berkata,
“Sesungguhnya, ini adalah pakaian orang-orang yang tidak
mendapat bagian di akhirat.” 8
Ibnu Qudamah mengatakan,
“Hadits ini menunjukkan, bahwa berhias diri pada kesempatan-
kesempatan tersebut, yakni pada hari Jum’at, hari ‘Ied dan saat
menyambut utusan-utusan, adalah pekara yang sudah mashur di
kalangan mereka.” 9
Dart hadits di atas, juga dapat dipetik faidah, bahwa menghadiri shalat ‘Ied
dianjurkan untuk mengenakan pakaian yang bagus.
Marilah kita meliput yang dilakukan oleh Ibnu Umar pagi hari ‘Ied. Ibnu
Ishaq berkata, aku bertanya kepada Na’,”Bagaimanakah yang dilakukan oleh
Ibnu Umar pada hari ‘led?’ Ia menjawab,
“Beliau menghadiri shalat Subuh berjama’ah bersama imam.
Kemudian, pulang ke rumah. Lalu beliau mandi, sebagaimana mandi
junub, lalu mengenakan pakaian yang paling bagus yang dimilikinya,
lalu memakai parfum yang beliau miliki.
Kemudian keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘Ied.
Beliau duduk menunggu imam. Apabila imam telah datang, beliau
shalat bersamanya.
Kemudian beliau kembali dan mendatangi masjid Nabawi, lalu shalat
dua raka’at. Setelah itu, beliau pulang ke rumah.” 10
Maka dari itu wahai saudaraku, jangan lupakan Sunnah Nabi ini. Mandi dan
berhias dirilah sebelum mendatangi shalat ‘Ied.
8Hadits riwayat Al Bukhari 948 dan Muslim 2068.
9Al Mughni II/228.
10Diriwayatkan oleh Al Harits dalam Musnad-nya, Sebagaimana disebutkan dalam
Bughyatul Bahits I/323, no. 207.
3. Makan Sebelum Berangkat Shalat.
Sebelum berangkat ke lapangan untuk shalat pada hari ‘Ied, dianjurkan agar
makan terlebih dulu. Dan sebaiknya memakan kurma, seperti diriwayatkan dalam
Shahih Al Bukhari dari hadits Anas bin Malik ia berkata,
Rasulullah tidak berangkat shalat pada hari ‘Ied, hingga beliau
‘makan beberapa buah kurma. 11
Disunnahkan memakannya dalam jumlah ganjil, seperti disebutkan dalam riwayat
lain dari Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah tidak berangkat shalat pada
hari ‘Iedul Fitri, hingga beliau makan kurma sebanyak tiga atau lima atau tujuh
buah. 12
Jika tidak ada kurma, dibolehkan makanan yang lainnya, namun diutamakan
yang manis-manis, seperti: madu dan sejenisnya. Atau kalau tidak ada makanan
sama sekali, maka minum air juga sudah mencukupinya. Demikian dikatakan
oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. 13
Dalam sebuah atsar yang shahih, dari Abdullah bin Abbas disebutkan, bahwa
beliau berkata,
“Jika kalian sanggup tidak berangkat shalat ‘Iedul Fitri sebelum
memakan makanan, maka lakukanlah.” 14
Jangan lewatkan sunnah yang satu ini, wahai saudaraku. Persiapkanlah makanan
untuk pagi hari ‘Ied.
4. Ajaklah Keluarga Dan Kaum Wanita Untuk Menghadirinya
Rasulullah telah memerintahkan para wanita untuk keluar menghadiri shalat ‘Ied.
Ummu Athiyyah berkata,
11Hadits riwayat Al Bukhari 953.
12Hadits riwayat Ibnu Hibban 2814 dan Al Hakim I/294.
13Lihat Fathul Bari II/448.
14Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dalam Mushannaf 5734 dan Ibnul Mundzir dalam Al
Ausath, IV/254.
5
Kami diperintahkan -yakni oleh Nabi – agar membawa serta para gadis
yang sudah baligh dan gadis-gadis yang berada dalam pingitan pada
hari ‘Ied. Sehingga mereka bisa menyaksikan jama’ah kaum muslimin
dan do’a mereka. Dan wanita yang sedang haidh menjauhi tempat
shalat.
Dalam riwayat lain disebutkan,
Kami diperintahkan agar ikut serta pada hari ‘Ied. Demikian pula
para gadis yang berada dalam pingitan. Beliau juga memerintahkan
wanita haidh untuk keluar, namun hendaknya mereka mengambil
tempat di belakang tempat shalat dan ikut bertakbir bersama kaum
muslimin.
Dalam riwayat lain disebutkan, ada seorang perempuan berkata,
“Wahai Rasulullah. salah seorang dari kami tidak memiliki
jilbab?” Rasulullah berkata, “Hendaklah saudaranya yang lain
meminjamkanjilbab untuknya.” 15
Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan, bahwa Rasulullah mendatangi tempat
shalat, kemudian mengerjakan shalat, lalu menyampaikan khutbah. Kemudian,
disertai Bilal, beliau mendatangi kaum wanita untuk memberi nasihat dan
peringatan kepada mereka dan memerintahkan mereka untuk bersedekah. 16
Demikian pula para sahabat. Mereka membawa serta keluarga ke lapangan
shalat ‘Ied. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa beliau membawa serta
keluarganya yang bisa dibawa ke lapangan shalat ‘Ied. 17
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menyebutkan alasannya, “Agar mereka
dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslimin.”
Oleh karena itu, bawalah serta keluargamu ke lapangan tempat dilaksanakan-
nya shalat ‘Ied. Hidupkan dan semarakkanlah syi’ar kaum muslimin ini.
15Hadits-hadits di alas diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari 324 dan Muslim 890.
16Hadits riwayat Al Bukhari 977.
17Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5786 dun Ibnul Mundzir dalam
Al Ausath IV/262-263 dengan sanad shahih.

5. Berjalan Kaki Menuju Lapangan Tempat Shalat
Dianjurkan keluar menuju lapangan shalat ‘Ied dengan beijalan kaki, bila
memungkinkan dan tidak memberatkan. Jika memberatkan, maka boleh dengan
mengendarai kendaraan.
Dalam Mursal Az Zuhri disebutkan, bahwa Rasulullah tidak mengendarai
kendaraan saat menuju tempat shalat ‘Ied dan saat mengantar jenazah. 18
Telah disebutkan atsar dari Said bin Al Musayyib,
“Sunnah ‘Iedul Fitri ada tiga. (Yaitu:) berjalan menuju lapangan
(tempat shalat), makan sebelum berangkat dan mandi.”
Abu Bakar Hafsh bin Umar bin Sa’ad berkata,
“Kami keluar bersama Abdullah bin Umar pada hari ‘Iedul Adha atau
‘Iedul Fitri. Dia keluar berjalan kaki hingga sampai ke tanah lapang
tempat pelaksanaan shalat ‘Ied. Dia duduk menunggu imam datang,
kemudian shalat bersama imam, kemudian beliau pulang.” 19
Diriwayatkan pula dari All bin Abi Thalib, bahwa beliau berkata,
Termasuk sunnah, yaitu engkau berjalan kaki menuju tempat shalat
‘Ied dan memakan sesuatu sebelum berangkat. 20
Berjalan kaki menuju lapangan tempat pelaksaan shalat ‘Ied dapat
menghidupkan syi’ar hari yang agung ini. Namun patut disesalkan, Sunnah Nabi
ini seakan telah dilupakan oleh kaum muslimin. Maka dari itu, marilah kita
hidupkan kembali Sunnah Nabi ini.
18Diriwayatkan oleh Al Faryabi dalam Ahkamul ‘Iedain no. 27 dengan sanad hasan sampai
kepada Az Zuhri.
19Hadits riwayat At Tirmidzi II/418.
20Hadits riwayat At Tirmidzi II/410 dan Ibnu Majah 1296.

6. Mengumandangkan Takbir

Satu lagi Sunnah Nabi yang ditinggalkan kaum muslimin, yaitu bertakbir dengan
mengangkat suara; mulai dari keluar rumah hingga imam tiba di tempat shalat.
Al Faryabi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa beliau mengeraskan
suara takbir pada hari raya ‘Iedul Fitri saat berangkat ke tempat shalat, hingga
imam keluar dan beliau mengikuti takbirnya. 21
Imam Syu’bah bertanya kepada Al Hakam’dan Hammad,
“Apakah aku bertakbir saat keluar menuju tempat shalat?” Mereka
berdua menjawab,”Ya.” 22
Kaum wanita juga dianjurkan bertakbir jika aman dari tnah, tetapi dengan
tidak mengeraskannya seperti halnya kaum pria. Dasarnya adalah hadits Ummu
Athiyyah sebagaimana telah disebutkan di atas. 23
Adapun lafazh takbir; telah diriwayatkan dari sebagian sahabat, diantaranya
ialah takbir Abdullah bin Abbas:
Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar kabira, Allahu Akbar wa aJalla,
Allahu Akbar walillahil hamd. 24
Atau takbir Salman Al Farisi:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar kabira. 25
Diriwayatkan dari Ibrahim An Nakha’i, ia berkata,
“Mereka bertakbir pada had ‘Arafah. Diantara mereka ada yang
menghadap kiblat setelah selesai shalat sambil mengucapkan:
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaha illallahu, Wallahu
Akbar, Allahu Akbar walillahil hamd. 26
(Artinya, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Ilah (yang berhak
disembah) selain Allah. Allah Maha Besar, Maha Besar Allah, segala pujian
hanyalah milikNya.
21Ahkamul ‘Iedain no. 53.
22Diriwayatkan oleh lbnu Abi Syaibah 5626 dengan sanad shahih.
23Silakan lihat Fathul Bari IX/33.
24Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5645 dengan sanad shahih.
25Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Al Kubra III/316 dengan sanad shahih.
26Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf 5649 dengan sanad shahih.

7. Berangkat Dengan Melewati Satu Jalan Dan Kembali Lewat Jalan Yang Lain
Ketika kembali dari shalat, disunnahkan mengambil jalan lain, selain jalan yang
dilalui ketika berangkat. Berdasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Jabir,
ia berkata,
Bahwasanya Rasulullah pada hari ‘Ied mengambil jalan lain, selain
jalan yang dilalui sewaktu berangkat. 27
Para ulama banyak menyebutkan hikmahnya. Diantaranya sebagaimana
disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari II/ 473. Ada yang mengatakan,
hikmahnya ialah untuk menampakkan syi’ar Islam pada had itu. Ada yang
mengatakan, hikmahnya untuk menampakkan syi’ar dzikrullah pada hari itu.
Ada yang mengatakan, hikmahnya agar jin dan manusia yang ada di dua jalan
tersebut dapat menyaksikannya. Ada yang mengatakan, hikmahnya ialah untuk
membangkitkan kedongkolan dalam hati kaum munakin dan Yahudi, dan masih
banyak lagi hikmah-hikmah lainnya.
Setelah menyebutkan hikmah-hikmah di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih
Al Utsaimin mengatakan,
“Hikmahnya ialah mutaba’atus Sunnah (mengikuti sunnah) Rasulul-
lah.”
Syaikhul Islam menyebutkan dalam kitab Majmu’ Fatawa,
“Bahwasanya dalam melaksanakan manasik dan pada had ‘Ied,
Rasulullah ‘tit berangkat dari satu jalan dan pulang melalui jalan
yang lainnya.” 28
8. Memberi Ucapan Selamat
Boleh mengucapkan selamat hari ‘Ied kepada kaum muslimin pada hari yang
berbahagia ini. Sebagaimana diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabi’in,
27Hadits riwayat Al Bukhari 986.
28Majmu’ Fatawa 26/134.9
seperti Abu Umamah Al Bahili dan lainnya. Mereka mengucapkan: Taqabballahu
minna wa minkum. (Artinya, semoga Allah menerima amalan kita semua).
Imam Malik pernah ditanya,
“Makruhkah hukumnya seseorang mengucapkan kepada saudaranya
saat kembali dari shalat ‘Ied “Taqabballahu minna wa minkum” atau
“Ghafara lava wa laka” (semoga Allah mengampuni kita semua), lalu
saudaranya membalasnya seperti yang diucapkannya?”
Beliau menjawab, “Tidak makruh.” Yakni boleh. 29
Imam Ahmad pernah ditanya: “Aku harap tidaklah mengapa mengucapkan
selamat.” 30
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menganggapnya boleh bagi yang melakukannya
dan bagi yang tidak melakukannya. Terdapat contoh dan panutan bagi kedua
belah pihak 31
9. Sambutlah Hari ‘Ied Dengan Ketaatan Dan Kesederhanaan
Sambutlah hari yang agung ini dengan ketaatan dan kesederhanaan, tidak
mubadzir dan melampaui batas; baik dalam hal makanan, pakaian atau yang
lainnya. Allah berrman,
Dan janganlah kamu nlenghambur-hamburkan (hartamu) se-
cara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudarasaudara syetan. dan syetan itu adalah sangat ingkar
kepada Rabbnya. (QS Al Isra’: 26-27).
Dalam ayat lain, Allah berrman,
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah. dan jangan berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-
lebihan. (QS Al An’am: 31).
29Al Muntaqa I/322.
30Su’alat Abu Dawud halaman 61.
31yaitu yang melakukan dan yang tidak melakukannya.
10
Dan masih banyak lagi ayat yang semakna dengan itu. Hindarilah perbuatan
dosa dan maksiat pada hari yang suci dan agung ini.
Semoga kita termasuk hamba yang bertaqwa dan memperoleh ampunan setelah
sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa. Jangan lupa pula mengerjakan puasa
Syawal enam hari, untuk memperoleh kesempurnaan dari amal puasa yang kita
lakukan pada bulan Ramadhan. Rasulullah bersabda,
Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diikuti dengan
puasa enam hari pada bulan Syawal, maka seolah ia telah berpuasa
setahun penuh. 32
Demikianlah beberapa sunnah Nabi yang dapat kami ketengahkan pada
kesempatan ini. Semoga kita dapat mengamalkannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: